resesi ekonomi
published 11/08/2022 - 5 Min Read

Jika Resesi Ekonomi Terjadi, 5 Hal Ini yang Harus Kamu Lakukan

Sejumlah negara di dunia saat ini sedang berada di ambang resesi ekonomi. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kesempatan Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2022, pada Juni 2022 lalu mengatakan saat ini keadaan dunia sedang tidak baik-baik saja, khususnya di bidang perekonomian. 

Menurut Jokowi, Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) memperkirakan perekonomian di 60 negara akan mengalami kejatuhan, tak terkecuali Indonesia. Jokowi menjelaskan, perekonomian dunia sedang memburuk karena dunia saat ini sedang dibayang-bayangi oleh ancaman krisis pangan, ancaman krisis energi, dan ancaman kenaikan inflasi.

Artinya 60 negara yang disebutkan Jokowi di atas sedang berada di ambang resesi. Dikutip dari portal berita tempo.co, saat ini Indonesia berada di ambang ancaman resesi. Di mana inflasi tertinggi terjadi pada Juni 2022 lalu. Badan Pusat Statistik menyebut inflasi tahunan pada Juni mencapai 4,35 persen. Angka ini naik melesat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 3,55 persen. 

Nilai inflasi ini melampaui sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia, yakni sekitar 2-4 persen. Tingginya inflasi yang terjadi saat ini tak terlepas dari kondisi perekonomian dunia. Ekonomi dunia memburuk diakibatkan perang antara Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut hingga saat ini. 

Konflik kedua negara di Eropa Timur itu membuat harga komoditi utama dunia mengerek naik. Rusia dan Ukraina dikenal sebagai negara pemasok gandum ke berbagai negara yang menyumbang kurang lebih sepertiga pasokan gandum global. Semenjak  perang, lalu lintas ekspor gandum dari Laut Hitam terganggu dan menyebabkan  harga komoditi tersebut semakin melambung. 

Selain itu, kondisi terparahnya adalah nilai tukar Euro terhadap mata uang lainnya semakin melemah. Kini nilai tukar Euro terhadap Rupiah sama dengan nilai tukar Dollar terhadap Rupiah. (baca artikel: Pahami Bagaimana Nilai Tukar Euro Anjlok, dan Pengaruhnya untuk Berinvestasi)

Di Ambang Resesi

Kondisi seperti ini akan berdampak pada lemahnya daya konsumsi masyarakat sehingga  pertumbuhan ekonomi akan terancam melambat. Situasi seperti ini merupakan tanda-tanda resesi ekonomi. 

Apa itu resesi ekonomi?

Dikutip dari IDX channel resesi merupakan penurunan signifikan kegiatan ekonomi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Resesi juga dinilai sebagai bagian yang tak terhindarkan dari siklus perekonomian di dunia. 

Meski begitu, pemerintah Indonesia melakukan beberapa langkah untuk menahan resesi ekonomi terjadi. Seperti misalnya menambah subsidi untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak. Di sisi moneter, Bank Indonesia berkukuh menahan bunga acuan 3,5 persen dengan pertimbangan tingkat inflasi yang masih terkendali. 

Dampak Resesi

Dampak dari resesi adalah larinya modal asing yang ada di dalam negeri. Para pelaku industri pun menaikkan harga jual produknya karena tak kuat menahan biaya bahan baku yang rata-rata masih diimpor. Resesi ekonomi dapat memantik penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi.

Al Quran Mengajarkan Siap Menghadapi Resesi

Jauh sebelum krisis ekonomi global melanda negara-negara modern seperti saat ini, Allah SWT telah mengajarkan kita semua untuk mengantisipasi resesi atau krisis ekonomi. Melalui kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Allah telah memberikan pengajaran kepada kita sebagai hamba-Nya untuk bersiap ketika resesi datang. 

Di dalam Q.S. Yusuf ayat 43-53, dikisahkan seorang raja di Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh yang kurus-kurus. Sang raja menceritakan mimpinya ini kepada para pemuka pemerintahannya dan cendekiawan yang dikenal mengetahui tafsir tentang mimpi dan sihir. Mereka diharapkan mampu memberi pencerahan atas mimpi yang dialami sang raja.

Nabi Yusuf a.s. yang punya ilmu takwil mimpi saat itu menafsirkan mimpinya bahwa supaya pemerintah mengambil kebijakan menabung atau menyimpan cadangan makanan. Sebab, krisis itu diperkirakan terjadi selama tujuh tahun, sehingga selama tujuh tahun sebelum krisis dianjurkan untuk menyiapkan ketahanan pangan secara maksimal.

Krisis ekonomi atau pun resesi ekonomi pada zaman Nabi Yusuf AS sebenarnya memiliki kesamaan dengan situasi ekonomi global pada saat ini.  Untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut, maka langkah pertama yang perlu diambil adalah mengatasi sumber permasalahan. Investasi jangka panjang, menabung dan penghematan konsumsi merupakan strategi yang diambil pada masa krisis atau resesi ekonomi , seperti yang terjadi di masa Nabi Yusuf AS. 

Untuk selengkapnya mengenai kisah dan pelajaran penting dari Nabi Yusuf AS dalam menggadapi krisis dan resesi, kamu bisa baca artikel yang pernah tayang sebelumnya yang berjudul: Ketika Resesi Datang, Simak 5 Nasihat Qur’an Tentang Resesi.

Cara Mengelola Keuangan untuk Menghadapi Resesi

Resesi ekonomi secara global tidak bisa dihindari. Tetapi, kita sebagai individu bisa menyiapkan beberapa langkah agar bisa bertahan dalam menghadapi resesi. Salah satunya adalah caramu dalam mengelola keuangan. 

Berikut tips untukmu yang dikutip dari CNBCIndonesia.com dalam menghadapi resesi keuangan dunia yang bisa berdampak pada kehidupamu:

  1. Berhemat

Walaupun resesi belum benar-benar terjadi, tetapi alangkah baiknya kebiasaan hidup hemat mulai dilakukan. Belilah kebutuhan seperlunya saja, terutama kebutuhan pokok. Tujuannya adalah agar bisa memiliki uang lebih yang bisa dialokasikan untuk hal hal lain seperti dana darurat, melunasi atau mengurangi utang, dan investasi.

  1. Atur Ulang Pos Pengeluaran

Mulai memisahkan pos yang merupakan kebutuhan pokok dan mana yang merupakan pos yang merupakan keinginan.

Mungkin bisa mulai mengurangi pos leisure seperti nongkrong atau nonton atau traveling. Bisa dikurangi bukan dihilangkan, dari sisi  biayanya atau intensitasnya. Dalam menentukan ulang pos anggaran pengeluaran, bisa dilakukan juga cek kesehatan keuangan sederhana. Contohnya cek rasio tabungan, utang terhadap pengeluaran, dan rasio likuiditas.

  1. Mengelola Utang dengan Baik

Buat utang seminim mungkin untuk berjaga-jaga misalnya terjadi resesi. Proporsi utang terhadap pengeluaran bulanan yang sehat sekitar di bawah 30%. Namun karena mau menghadapi resesi, lebih konservatif juga lebih baik. Misalnya rasio utang terhadap pengeluaran sampai 20%.

Pastikan dalam membayar utang mulai dari yang berbunga besar. Karena bunga yang tinggi bisa berpengaruh pada arus kas keluarga saat mengalami masalah keuangan. Hal ini bertujuan agar tidak membebani pengeluaran saat (amit-amit) terjadi resesi.

  1. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat yang ideal adalah untuk 3-6 bulan dalam memenuhi kebutuhan. Mumpung belum sampai resesi, masih ada waktu untuk segera mengumpulkannya.

Jika terjadi resesi, kemudian ada pengurangan gaji atau bahkan PHK, dana darurat ini yang nantinya bisa menggantikan pendapatan yang hilang.

  1. Menambah Pendapatan

Namun akan lebih aman jika menambah aliran kas masuk atau pendapatan untuk makin memperkokoh kesehatan keuangan pribadi.

Jika ada kelebihan uang jangan kemudian langsung dikonsumsi. Tabunglah dan investasilah. Investasi juga bisa dilakukan di aset minim risiko. Salah satu platform investasi atau pengembangan keuangan yang minim risiko ada di P2P. 

Seperti platform peer to peer funding syariah dari ALAMI yang menawarkan pengembangan danamu dengan mendanai UMKM di Indonesia yang sedang berkembang. Dapatkan ujrah atau imbal hasil setara dengan 14-16% pa. 

Mengembangkan dana di ALAMI cukup mudah dengan fitur dan teknologi terkini,  sesuai syariah, dan aman karena berizin dan diawasi oleh OJK, dengan Tingkat Keberhasilan Bayar dalam jangka waktu 90 hari sejak jatuh tempo (TKB90) sebesar 100% . Dapatkan aplikasinya di 

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments