thrift
published 15/11/2022 - 4 Min Read

Mengenal Pasar Thrifting, Plus Minus, dan Peluang Usahanya

Jika gemar berselancar di media sosial atau e-commerce, mungkin kamu pernah menemukan toko online yang menjual baju-baju hasil thrift.

Meski baru benar-benar banyak digemari di Indonesia beberapa tahun silam, ternyata belanja barang bekas adalah kegiatan yang sudah sangat lumrah di luar negeri.

Sejak tahun 2000-an awal, sudah banyak toko-toko barang bekas yang bisa ditemukan di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.

Tak jarang toko-toko ini menjadi tujuan utama ketika seseorang menginginkan sesuatu yang baru.

Bahkan, diperkirakan bahwa thrifting adalah hal yang sudah dilakukan lebih lama lagi, yaitu puluhan tahun yang lalu.

Secara sederhana, thrifting adalah membeli barang bekas untuk digunakan kembali, seperti baju, perabotan, dan lainnya.

Tak diragukan lagi, saat ini sudah semakin banyak orang mencari barang lewat pasar thrifting.

Ternyata, selain bisa mendapatkan barang bekas dengan harga yang murah dan masih layak digunakan, thrifting juga memiliki dampak yang baik bagi lingkungan, lho.

Kenapa bisa begitu? Lalu, bagaimana peluang pasar thrifting di Indonesia ke depannya? Jawabannya akan Mina bahas dalam artikel ini.

Yuk, simak bacaannya di bawah ini!

Apa Itu Thrifting?

Menurut Waste4Change, thrifting juga dikenal dengan thrift shopping. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah belanja barang bekas.

Wajar jika ini terdengar sedikit aneh untuk beberapa orang. Pasalnya, membeli barang baru, khususnya baju, adalah apa yang normalnya kita lakukan.

Membeli barang bekas di thrift shop memang sedikit lebih menantang dibanding belanja di toko biasa.

Kamu tidak akan pernah tahu apa yang mungkin ditemukan di sana.

Tenang, meski bekas, bukan berarti barang-barang yang ada sudah tidak layak.

Bahkan, tak jarang ada barang masih bagus yang bisa kamu dapatkan secara thrift dengan harga yang lebih murah.

Manfaat yang kamu dapatkan dari thrifting bukan itu saja, lho. Ternyata, thrift adalah suatu hal kecil nan mudah yang bisa kamu lakukan untuk melestarikan lingkungan dan mengurangi limbah.

Salah satu dampak terbesar thrift adalah pada industri fast fashion. Apa itu fast fashion?

Mengutip Zero Waste, fast fashion adalah industri tekstil yang memproduksi baju dengan model gaya yang sering berganti dalam waktu yang sangat singkat.

Hal ini paling terasa di negara yang punya 4 musim. Orang-orang punya baju model tertentu untuk masing-masing musim.

Ketika musim tersebut sudah lewat, baju tidak akan dapat dipakai untuk waktu yang cukup lama dan justru malah rusak.

Kadang, bahkan orang membuang baju saat kondisinya masih bagus ketika sudah bosan.

Tentunya, hal ini berakibat buruk bagi lingkungan karena memproduksi limbah dari tekstil tersebut.

Limbah ini sulit terurai, karena bahan pakaian kadang mengandung zat-zat kimia yang sulit diuraikan.

Selain itu, untuk memproduksi baju sendiri, dibutuhkan bahan baku fosil yang sangat banyak.

Seperti yang kita ketahui, bahan bakar fosil adalah energi yang tidak terbarukan.

Nah, alih-alih terus mendukung industri fast fashion dan membeli baju yang benar-benar baru setiap beberapa waktu, disarankan untuk mencoba membeli baju atau barang bekas yang masih bagus.

Ketika kamu memilih untuk membeli barang bekas, kamu memperpanjang usia pakai barang tersebut sehingga bisa berguna untuk waktu yang lebih lama.

Dengan begitu, barang tersebut tidak akan menjadi sampah begitu saja.

Saat ini, generasi Milenial dan generasi Z semakin banyak yang peduli lingkungan.

Oleh karena itu, tidak heran jika berbelanja di toko barang bekas menjadi hal yang semakin digemari.

Bukan hanya di Indonesia, thrifting sudah menjadi hal yang lumrah dan digemari di seluruh penjuru dunia.

Seperti yang disebutkan dalam laporan McKinsey yang berjudul “The State of Fashion 2019”, 9 dari 10 konsumen generasi Z percaya bahwa perusahaan punya tanggung jawab terhadap permasalahan lingkungan.

Plus Minus Thrifting

Seperti yang sudah Mina sempat bahas, thrifting adalah suatu hal yang cenderung positif. Tapi ternyata, thrifting tak selamanya merupakan hal yang baik.

Sebelum kamu menetapkan untuk membeli atau bahkan menjual barang bekas, plus minusnya berikut ini wajib kamu ketahui.

Kelebihan Thrifting

1. Baik untuk lingkungan

Saat kamu menggunakan kembali barang yang sudah tak dipakai orang lain, kamu mencegah barang tersebut masuk ke dalam tempat pembuangan.

Melansir UNISAN, tempat pembuangan sampah menghasilkan banyak zat beracun, air limbah, dan gas rumah kaca.

2. Lebih hemat

Barang bekas sudah pasti harganya lebih murah dibanding barang baru.

Jadi, kamu bisa lebih hemat dan menabung lebih banyak.

Uang yang bisa kamu simpan dari berbelanja thrifting dapat dialokasikan untuk hal lain, misal untuk dikembangkan di platform P2P lending syariah, seperti ALAMI.

Di ALAMI, kamu bisa mendapatkan ujrah atau imbal hasil hingga setara 14-16% p.a.

Jika dilakukan rutin, pasti kamu dapat mewujudkan keinginanmu membeli hal-hal lain.

Yuk, coba download aplikasinya dengan klik tombol di bawah ini!

ALAMI P2P Lending Syariah
ALAMI P2P Lending Syariah

Kekurangan Thrifting

1. Kondisi barang tidak prima

Karena bekas pakai, tentu kamu tidak akan bisa mendapatkan barang dalam kondisi terbaiknya.

Jadi, saat membeli, harus sangat cermat memperhatikan apakah barang yang dijual masih layak dan bisa bertahan cukup lama atau tidak.

2. Sulit menemukan yang diinginkan

Di toko barang bekas, kamu tidak tahu apa saja yang ada di sana dengan pasti.

Saat datang ke toko, kamu belum tentu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Bahkan, jika barang yang kamu hendak beli adalah baju, tak jarang ukurannya juga tak sesuai dan tidak ada pilihan lainnya.

Peluang Usaha Thrifting

Menurut Jurnal.id, belanja barang bekas di Indonesia telah menjadi tren yang kekinian.

Bahkan, bisa dibilang bahwa membeli barang bekas adalah bagian dari gaya hidup.

Jika kamu mau berbisnis barang bekas, tentu ada peluang yang menjanjikan di Indonesia.

Apalagi, modal yang dibutuhkan untuk bisnis ini cukup rendah.

Disebutkan bahwa kamu bisa mendapatkan paling tidak 50 potong pakaian secara acak dengan harga 1 juta rupiah.

Jika dijual kembali dengan harga 50 ribu saja, sudah cukup banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan.

Kuncinya adalah mengetahui bagaimana mensuplai baju untuk tokomu dan kejelian dalam memilih koleksi yang akan dijual agar menarik pelanggan.

Jadi, bagaimana? Apakah kamu berminat untuk membuka usaha ini?

Nadiyah Rahmalia

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments