investasi kesehatan mental
published 07/10/2021 - 4 Min Read

5 Tantangan Kesehatan Mental di Indonesia dan Pentingnya Investasi Kesehatan Mental

Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Di tahun 2021 ini peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia menginjak peringatan yang ke-29. Hari Kesehatan Mental Sedunia merupakan hari mengenai pendidikan kesehatan mental maupun pembelaan dunia dalam melawan stigma sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia. Tujuan utamanya adalah untuk menegaskan pada semua pihak atas pembelaan kesehatan jiwa secara umum melalui edukasi kepada masyarakat.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan Hari Kesehatan Mental Sedunia adalah kesempatan bagi dunia untuk berkumpul dan mulai memperbaiki pengabaian terhadap kesehatan mental. 

“Kami membuat komitmen serius untuk meningkatkan investasi kesehatan mental saat ini, konsekuensi kesehatan, sosial, dan ekonomi akan berdampak luas,” ujar Tedros dikutip dalam laman resmi WHO melalui kompas.com.

Meski begitu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental masih rendah. Terutama di Indonesia, kesehatan mental masih dianggap sebagai hal yang tabu. Stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental di Indonesia masih sangat kuat. Padahal, berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia, setidaknya ada 450.000 keluarga di Indonesia yang menderita skizofrenia (gangguan mental jangka panjang).

Isu kesehatan mental di Indonesia masih menjadi stigma yang dapat berdampak buruk pada penderita. Misalnya seperti diskriminasi dan dikucilkan dari masyarakat. Stigma ini dapat menghambat kesembuhan dan pemulihan penderita kesehatan mental. Stigmatisasi terhadap penderita kesehatan mental merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi untuk menyadarkan masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental. 

Tantangan Kesadaran Pentingnya Kesehatan Mental di Indonesia 

  1. Stigma terhadap Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Stigma yang diberikan kepada pengidap kesehatan mental di Indonesia didapatkan melalui pengaruh lingkungan yang buruk. Diskriminasi, pengucilan, dan stereotip gangguan kesehatan mental membuat orang yang menderita gangguan mental memilih bungkam atau tidak berkonsultasi kepada ahli. 

Akibatnya, berdasarkan data dari Riskesdas Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2018, 12 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami depresi dan 19 juta penduduk di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.

  1. Rendahnya Pemahaman Mengenai Kesehatan Mental

Di Indonesia, informasi mengenai kesehatan mental masih belum banyak dipahami oleh masyarakat secara luas. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan mental membuat penilaian masyarakat terhadap pengidap gangguan kesehatan mental menjadi negatif. Akibatnya, terjadi salah penanganan terhadap penderita kesehatan mental.

  1. Kesehatan mental di Indonesia masih jadi hal tabu

Keterbatasan pemahaman dan pengetahuan mengenai kesehatan mental di Indonesia tidak dapat lepas dari nilai-nilai tradisi budaya atau kepercayaan masyarakat. Sebagian masyarakat masih mempercayai penyebab kesehatan mental berasal dari hal-hal supernatural atau takhayul sehingga pengidap gangguan kesehatan mental menganggap gangguan yang terjadi dalam dirinya adalah aib. 

Pemahaman ini membuat orang yang membutuhkan bantuan tenaga ahli enggan untuk ditangani. Tak jarang, pengidap gangguan kesehatan mental merasa malu untuk berada di masyarakat. 

  1. Diskriminasi Terhadap Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Kesadaran masyarakat yang rendah tidak jarang mengakibatkan munculnya diskriminasi terhadap pengidap gangguan kesehatan mental. Bentuk diskriminasi tersebut dapat berupa perlakuan kasar, penghinaan, maupun perundungan. Tak jarang pula masyarakat menjauhi pengidap gangguan kesehatan mental serta keluarganya.

  1. Akses Terhadap Kesehatan Mental Belum Merata

Akses terhadap kesehatan mental di Indonesia masih sulit. Anggaran pemerintah untuk kesehatan mental, kapasitas rumah sakit jiwa, serta bangsal psikiatri di rumah sakit umum masih belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Di Indonesia, ada delapan provinsi yang tidak memiliki rumah sakit jiwa dan tiga provinsi tidak memiliki seorang pun psikiater. Kementerian Kesehatan Indonesia memprediksi setidaknya 90 persen orang dengan gangguan kesehatan mental tidak mendapatkan akses terhadap perawatan yang memadai.

Investasi Kesehatan Mental

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 2015 lalu pernah mengungkapkan satu dari sepuluh orang di dunia memiliki gangguan kesehatan mental. Tapi hanya 1 persen tenaga kesehatan di dunia yang hanya mengobati penyakit tersebut. 

WHO juga mencatat, hampir setengah populasi di dunia hidup di negara di mana hanya terdapat satu psikiater per 100.000 orang, sementara di negara-negara yang memiliki pendapatan tinggi, tingkatannya adalah satu per 2.000. Oleh karena itu pentingnya investasi untuk kesehatan mental. Meski investasi kesehatan mental merupakan tema Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun lalu, hal ini masih sangat relevan untuk tahun ini, mengingat dunia yang secara perlahan pulih dari pandemi. 

Namun, investasi kesehatan mental masih sangat rendah. Data WHO pada 2020 menyebutkan, biaya kesehatan jiwa di negara berpenghasilan menengah bawah kurang dari 1 persen dari total biaya kesehatan. Rendahnya investasi menjadikan pengobatan, pelayanan, hingga kebijakan untuk masalah kesehatan jiwa bukan menjadi prioritas. Meski kesehatan jiwa menjadi salah satu indikator capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), banyak pemimpin dan pengambil kebijakan yang belum memahami pentingnya kesehatan jiwa.

Dikutip dari tulisan opini dr. Humaira, ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, di Serambinews.com, saat ini investasi dalam program kesehatan jiwa atau mental menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Investasi merupakan tabungan pembangunan untuk masa depan yang lebih baik. Diperlukan terobosan baru dalam kesehatan jiwa dan mental, sehingga berdiri sejajar dengan kesehatan fisik dan pendidikan.

Sasaran investasi kesehatan mental terdapat pada sumber daya manusia untuk kesehatan jiwa baik keluarga, masyarakat, juga tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang berkualitas dari tingkat primer. Dukungan dan partisipasi dari masyarakat juga tentunya menjadi modal utama dalam melaksanakan upaya tersebut. 

Itulah 5 tantangan dan penjelasan bagaimana pentingnya investasi kesehatan mental. Seperti halnya dalam keuangan, investasi kesehatan mental perlu dipersiapkan, mulai dari fasilitas kesehatan hingga tenaga kesehatannya. Sebab, di masa mendatang dunia semakin berkembang dengan segala macam permasalahannya yang kompleks. Dari permasalahan yang kompleks tersebut kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan mental semakin besar. 

Untuk mempersiapkan diri di tengah permasalahan yang kompleks di masa depan, kamu juga perlu mempersiapkan keuanganmu lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah mengembangkan keuanganmu di ALAMI peer to peer lending syariah. 

Dengan mengikuti campaign pendanaan untuk UMKM yang sedang berkembang, kamu akan mendapatkan ujrah atau imbal jasa setara hingga 14%-16% pa. Caranya sangat mudah, ikut langkah-langkah berikutnya di ALAMI mobile appss yang dapat didownload di Playstore dan Appstore.

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments