puasa sebelum idul adha
published 06/07/2021 - 4 Min Read

Menjalankan Puasa Sebelum Idul Adha: Ketentuan hingga Keutamaannya

Puasa sebelum Idul Adha dilakukan di bulan Dzulhijjah. Puasa ini dilakukan sebagai persiapan untuk merayakan merayakan Idul Adha, dan momentum pelaksanaan ibadah haji ke tanah suci. Namun, di tengah pandemi seperti saat ini, pelaksanaan ibadah haji sangat terbatas. Apalagi di Indonesia tidak ada jemaah haji yang diberangkatkan pada tahun ini. 

Maka dari itu yang bisa dilakukan sebagai seorang muslim, khususnya di Indonesia adalah melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Salah satunya adalah puasa sunnah sebelum Hari Raya Idul Adha. Puasa sebelum Idul Adha ada yang melaksanakannya sehari tanggal 9 Dzulhijjah saja ada yang melaksanakannya dua hari mulai dari tanggal 8 Dzulhijjah.

Puasa Sebelum Idul Adha: Puasa Arafah dan Tarwiyah

Tak hanya puasa Arafah saja yang dikenal sebagai puasa sebelum Idul Adha. Bagi sebagian orang memulai puasa sebelum Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah dan 9 Dzulhijjah. Nama puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah disebut sebagai puasa Tarwiyah. Tanggal Dzulhijjah disebut juga sebagai yaumut tarwiyah (hari menyegarkan diri). Hal ini terkait kebiasaan para peziarah (haji) membawa air untuk menghilangkan haus karena terik matahari yang menyengat, lantas menuju ke Mina. 

Tarwiyah juga bisa dikaitkan dengan tindakan merenung (rawwa-yurawwi-tarwiyah) yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim setelah menerima wahyu dari Allah untuk menyembelih sang putra, Ismail. Barulah pada hari kesembilan Dzulhijjah, Ibrahim mendapatkan takwil dan membuatnya tahu (‘arafa) makna mimpi itu. 

Sementara puasa di tanggal 9 Dzulhijjah dinamakan puasa Arafah karena dilaksanakan pada saat jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Bagi jemaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di Arafah, tidak dianjurkan untuk melaksanakan puasa ini. Puasa sebelum Idul Adha disunnahkan bagi mereka yang tidak berangkat haji. 

Sejarah Puasa Sebelum Idul Adha

Salah satu puasa menjelang Idul Adha yang disunahkan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah ialah puasa 7 hari di awal bulan Zulhijah. Puasa itu dimulai dari tanggal 1 Zulhijah hingga 7 Zulhijah.

Dalam hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi disebutkan, “Rasulullah SAW berkata: Tak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti 10 hari ini (di bulan Dzulhijjah).” Dua hari dari 10 hari yang disebutkan adalah puasa Tarwiyah dan Arafah.

Puasa 7 hari di awal Dzulhijjah dianggap memiliki nilai dan sejarah tersendiri. Dikutip dari laman Zakat.co.id, hal yang menjadikan puasa 7 hari di awal Zulhijah dianjurkan ialah sejarah hari-hari menjelang Idul Adha yang penuh keistimewaan.

Seperti yang dicatat Ibnu Abbas, 10 hari sebelum Idul Adha memiliki catatan bersejarah dalam ajaran Islam.

Hari pertama di bulan Zulhijah dikenal dengan hari dimaafkannya Nabi Adam oleh Allah SWT karena telah memakan buah khuldi. Hari kedua Zulhijah merupakan hari diselamatkannya Nabi Yunus oleh ikan Nun. Di hari ketiga bulan Zulhijah merupakan hari dikabulkannya doa Nabi Zakaria untuk memiliki keturunan yaitu Yahya.

Hari keempat merupakan hari kelahiran Nabi Isa, hari kelima merupakan hari kelahiran Nabi Musa. Sedangkan hari keenam merupakan hari kemenangan para Nabi dalam berjuang menegakkan Islam. Dan, hari ketujuh Zulhijah merupakan hari ditutupnya pintu neraka.

Niat Puasa Sebelum Idul Adha Tarwiyah dan Arafah

Pada dasarnya, niat puasa sunah dapat dilafalkan pada malam hari sebelum terbitnya fajar. Namun, terdapat perbedaan dengan niat puasa wajib, yaitu niat puasa sunah dapat diucapkan pada pagi hari, selama seseorang belum melakukan perkara-perkara yang membatalan puasa. Niat puasa Tarwiyah yang dilafalkan dengan bahasa Arab, diucapkan sesuai konteks seseorang mengucapkan niat tersebut, apakah pada malam hari ataukah pada waktu subuh/pagi. 

Niat Puasa Tarwiyah

Dalam artikel jika niat puasa tarwiyah disampaikan malam hari, lafal bahasa Arabnya adalah sebagai berikut.

 نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā. 

Artinya, 

“Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.” 

Jika niat puasa Tarwiyah dilakukan pada subuh atau pada hari tersebut, lafalnya dalam bahasa Arab adalah sebagai berikut. 

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā

Artinya, 

“Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah SWT.” 

Niat Puasa Arafah

Niat Puasa Arafah dibedakan berdasarkan konteks waktunya, yaitu pada malam hari (sebelum puasa) atau pagi hari (hari seseorang berpuasa Arafah). 

Jika hendak membaca niat puasa Arafah pada malam hari, lafal bahasa Arabnya adalah sebagai berikut. 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ. 

Artinya, 

“Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT.” 

Jika hendak membaca niat puasa Arafah pada pagi hari, lafalnya adalah sebagai berikut.

 نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ. 

Artinya, 

“Aku berniat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah SWT.”

Keutamaan Puasa Sebelum Idul Adha

Sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Tirmidzi disebutkan bahwa Puasa Sebelum Idul Adha seperti puasa Arafah akan menghapuskan dosa satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah puasa

“Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura’ menghapuskan dosa tahun sebelumnya,” (hadis riwayat jamaah kecuali Bukhari dan Tirmizi).

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments