haji
published 14/06/2022 - 7 Min Read

Karpet Merah Bagi Bilal, Pergi Haji Tanpa Menunggu Antrean Puluhan Tahun

Pergi haji ke tanah suci adalah salah satu rukun Islam nomor lima dan menjadi kewajiban bagi muslim yang sudah mampu secara fisik, dan finansial untuk dikerjakan. Pergi haji ke tanah suci adalah panggilan untuk bertamu ke Baitullah, rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang digelar setiap tahunnya tepat di bulan Dzulhijjah. 

Namun, ternyata ibadah Haji untuk umat Muslim yang tinggal di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah antrean yang sangat panjang sehingga harus menunggu sampai puluhan tahun untuk bisa berangkat ke Baitullah.  

Ditambah lagi pula kuota jemaah haji Indonesia dibatasi oleh pemerintah Arab Saudi. Untuk tahun 2022 ini saja, kuota jemaah haji Indonesia yang diberikan hanya 100.051 orang. Oleh karenanya, tidak jarang penduduk Indonesia yang baru bisa pergi Haji di usia yang tidak muda lagi.

Kabar baiknya, di antara 250 juta warga negara Indonesia (WNI) ada beberapa yang mendapatkan rezeki yang tak ternilai, yakni mendapatkan kesempatan pergi haji tanpa harus menunggu berpuluh-puluh tahun. Mereka adalah WNI yang memang sudah lama bermukim di Arab Saudi, seperti pekerja migran Indonesia, Pelajar dan Mahasiswa dan juga diplomat Indonesia yang bekerja di KBRI maupun KJRI. 

Salah satu yang beruntung dan mendapatkan kesempatan rezeki bisa menunaikan rukun Islam kelima ini tanpa harus menunggu lama berpuluh-puluh tahun adalah Ahmad Bilal Almaghribi. Ia adalah, salah satu tim sharia compliance di ALAMI. Usianya baru 21 tahun saat menunaikan ibadah haji.  

Bilal mendapatkan ‘karpet merah’ haji karena pada saat itu ia berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Di tahun 2015 Bilal memulai pendidikannya di Universitas Islam Madinah. 

Ahmad Bilal Almagribi – ALAMI Sharia Compliance Team

“Alhamdulillah saya dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa di Islamic University of Madinah pada bulan September 2014. Karena ribetnya regulasi keberangkatan calon mahasiswa Madinah yang saat itu jumlahnya sekitar 150 orang, maka keberangkatan tertunda sekitar 6 bulan kemudian ke Maret 2015,” kata Bilal saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Singkat cerita, di saat musim haji tiba di tahun yang sama kampus tempat Bilal kuliah membuka kuota haji gratis bagi mahasiswa yang belum pernah haji. 

“Saya dan teman-teman mahasiswa Indonesia lainnya pun mendaftar. Beberapa waktu kemudian diumumkanlah calon penerima kuota haji gratis dari universitas, ternyata nama saya tidak masuk,” jelas Bilal.

Tak sampai di situ saja Bilal menyerah, pada saat yang sama Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Madinah mengadakan program Haji Bareng PPMI, tanpa pikir panjang Bilal pun ikut mendaftar. 

“Saat itu biaya yang diminta untuk disetorkan ke PPMI Madinah sebesar 4.000 Riyal Saudi atau sekitar Rp 14 juta (rate Rp 3500 / Riyal Saudi). Saya pun berusaha membayar biaya tersebut dengan uang beasiswa yang ada dan mengambil beberapa juta rupiah dari tabungan yang saya miliki di bank. Alhamdulillah saya mampu membayar dan semakin dekat untuk pergi haji,” jelas Bilal.

Biaya Haji Dibawa Kabur

Ada hal yang berkesan yang dialami oleh Bilal pada saat akan melaksanakan haji untuk pertama kalinya. Ternyata uang yang telah ia setorkan untuk biaya haji melalui PPMI ini dibawa kabur oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

“Kejadian berkesan bagi saya pada saat itu adalah gagalnya saya haji lewat PPMI Madinah, Karena uang yang kami setorkan dibawa kabur oleh orang yang seharusnya menjadi perantara untuk mendaftarkan kami ke travel haji,”ungkap Bilal. 

“Lalu beberapa hari menjelang puncak haji, universitas kembali mengumumkan nama calon penerima kuota haji gratis susulan. Alhamdulillaah nama saya ada. Batal haji dengan biaya sendiri lewat PPMI, namun Allah jadikan diterima haji lewat rombongan universitas,” lanjutnya. 

Perbandingan Naik Haji Langsung dari Arab Saudi dengan Pergi dari Indonesia

Bilal juga menceritakan perbedaan naik haji langsung dari Arab Saudi dengan pergi dari Indonesia yang diatur oleh pemerintah RI. Berdasarkan pengalaman Bilal, pergi haji langsung dari Arab Saudi tak perlu menunggu berpuluh-puluh tahun, bahkan jika seseorang berniat haji di tahun itu juga, maka ia bisa berangkat haji di tahun yang sama.

“Kami yang memperoleh izin tinggal resmi di Saudi dan warga negara Saudi sendiri jika ingin berhaji itu perlu mendapatkan tasrih atau surat izin haji dari Kementerian Haji Arab Saudi,” ungkap Bilal. 

Untuk mendapatkan tasrih haji ini kata Bilal ada dua opsi. Pertama bisa lewat travel haji resmi dengan segala fasilitas penginapannya di masy’aril haram (di Mina, Muzdalifah, dan Arafah) serta katering makanan dan transportasinya. Kedua pesan tasrih sendiri tanpa fasilitas penginapan di masy’aril haram. 

“Saat itu PPMI Madinah tentu memilih opsi yang pertama, agar para mahasiswa bisa nyaman saat berhaji,” jelas Bilal. 

Lama pembuatan tasrih ini pun tak memerlukan waktu lama. Menurut Bilal, surat izin atau tasrih dapat terbit di hari yang sama karena pendaftaraan dilakukan secara online.

“Kalau kita mau travel haji yang paling murah saat itu misal masih tersedia dengan paket seharga 3500 Riyal, lalu hanya klik booking sampai pembayaran sukses. Setelah itu tasrih (surat izin) berbentuk file pdfnya sudah bisa didownload,” jelas Bilal. 

Selain itu, kata Bilal, di Arab Saudi kuota total jemaah haji terisi tidak penuh, hanya paket travel yang harga murah saja yang selalu full booking, sisanya paket travel yang harganya lumayan tinggi yang masih tersisa. 

“Jadi saat itu, asal ada uang cukup aja, insyaa Allah bisa haji tahun itu juga,” terang Bilal.

Tapi, meski begitu, pemerintah Arab Saudi tetap membatasi warganya atau penduduk di sana yang ingin berhaji. Batasannya adalah tidak bisa berhaji setiap tahun. 

“Bagi yang sudah haji, baru bisa haji lagi setelah 5 tahun. Kecuali menemani mahramnya yang perempuan, maka sebelum 5 tahun bisa dikecualikan boleh haji lagi,” kata Bilal. 

Hal ini berbeda dengan jemaah dari Indonesia yang harus lewat pemerintah jika ingin pergi haji dengan biaya normal dengan konsekuensi menunggu antrean cukup lama. Atau melalui travel haji plus jika ingin haji lebih cepat, namun tentu dengan biaya yang lebih mahal. 

Biaya Lebih Murah Berangkat Haji dari Arab Saudi

Dari sisi biaya juga bisa dibilang jauh lebih murah untuk penduduk atau yang bermukim di Arab Saudi. Biaya haji lewat travel dengan segala fasilitasnya berkisar antara 3500 – 7000 Riyal Saudi, sesuai kelas layanan ekonomi – eksekutif. Namun secara umum biayanya tetap jauh lebih murah dibanding haji dari Indonesia, karena memang tidak diperlukan biaya tiket pesawat internasional dan hotel-hotel di Mekkah serta Madinah.

Tragedi Crane Jatuh dan Mina

Saat Bilal berhaji untuk pertama kalinya, ada pengalaman yang tak terlupakan hingga saat ini. Di tahun Bilal berhaji, ada suatu tragedi yang menimpa para jemaah haji, yakni robohnya crane pembangunan di kompleks Masjidil Haram yang merenggut nyawa dari beberapa jemaah haji. 

“Tahun 2015, momen yang paling berkesan atau diingat adalah 2 tragedi yang merenggut nyawa banyak orang, yaitu jatuhnya crane di Masjidil Haram dan terowongan Mina. Musim haji 2015 menjadi saksi 2 tragedi besar tersebut,” ungkap Bilal. 

“Di mana crane (alat berat) jatuh sebelum hari-hari puncak ibadah haji. Dan di hari-hari puncak ibadah haji, kembali terjadi tragedi desak-desakan berujung maut banyak orang di terowongan Mina. Di hari kejadian ini saya pribadi sempat merasakan desak-desakan tipis di Mina,” lanjutnya.

Momen Haru di Saat Haji Pertama Kalinya

Momen ibadah haji ini menjadi momen yang sakral bagi Bilal. Pertama kali datang ke Arab Saudi untuk menuntut ilmu, dan pada saat itu pula Allah SWT memanggilnya untuk mengunjungi dan bertamu di rumah Allah SWT.

Pada saat itu Bilal menggunakan kesempatannya untuk memanjatkan doa-doa dan harapannya di depan Baitullah, dan lebih mendekatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain memanjatkan doa-doa yang biasa dipanjatkan kebanyakan orang ketika beribadah haji. Bilal juga berdoa kepada Allah SWT bisa menjadi seorang ulama yang mampu mengamalkan ilmunya dengan baik.

“Adapun momen tawaf, sa’i, wukuf, dan lontar jumrah tentu saya menangis haru karena bisa Allah panggil untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5, dimana belum tentu semua umat Muslim bisa melaksanakannya. Kalaupun Allah panggil, ada yang berhaji dalam keadaan sudah tua, sehingga terasa cukup berat. Alhamdulillah Allah izinkan saya berhaji di usia muda,” ungkap Bilal.

Hikmah Berhaji dari Bilal

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari perjalanan haji Bilal di tahun 2015 lalu. Salah satunya adalah jika Allah sudah berkehendak maka sesuatu yang tidak mungkin akan dimudahkan jalannya. Seperti pengalaman Bilal yang uang hajinya dibawa orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi ia tetap bisa berhaji melalui jalur gratis dari universitas.

“Bahwa kalau Allah sudah berkehendak, maka Dia akan mudahkan jalan hamba-Nya. Seperti saya yang dapat musibah uang setoran haji dibawa kabur, ternyata ada pengumuman kuota haji gratis susulan dari universitas,” terang Bilal. 

“Demikian juga tragedi terowongan Mina menambah keimanan bahwa kalau belum waktunya wafat, maka kita akan selamat, walau terowongan tempat kejadian tersebut adalah terowongan yang sama dengan yang saya lalui untuk melontar Jumroh. Sejak musim haji tersebut hingga kini, mungkin hikmah yang dapat saya ambil adalah bahwa Ketentuan Allah itu seluruhnya baik, walau kadang ada kalanya terlihat ada rintangan di awal sebelum kita tahu hikmahnya,” lanjut Bilal.

Menabunglah untuk Berhaji

Bilal merupakan sosok yang beruntung dan mendapatkan rezeki dari Allah SWT untuk bisa berhaji di masa mudanya. Sementara bagi kita yang belum mempunyai kesempatan untuk berhaji, Bilal mengatakan menabunglah dari sekarang untuk ibadah wajib dan rukun Islam yang kelima ini. 

“Karena ibadah haji membutuhkan biaya besar, maka dapat dikatakan menabung untuk haji adalah suatu kewajiban. Kalau sengaja tidak ingin melakukan kewajiban, maka jelas berdosa,” jelas Bilal.

Meski aturan di negara kita untuk pergi haji harus menunggu antrean berpuluh-puluh tahun, biarkanlah hal itu diserahkan kepada Allah SWT. Salah satu yang terpenting yang kita lakukan adalah tetap berusaha menabung agar bisa pergi ke sana.

“Adapun perkara antrean yang panjang puluhan tahun, mungkin umur tidak akan sampai, serahkan semua kepada Allah. Tugas kita berusaha nabung dulu. Kalaupun qadarullaah wafat sebelum haji, namun kita sudah menyetorkan uang untuk pendaftaran antrean haji, tidak mustahil Allah berikan bagi yang wafat pahala haji karena ikhtiarnya membuka tabungan haji tersebut,” jelas Bilal.

Nah, itu dia inspirasi dari salah satu ALAMI Squad yang mempunyai kesempatan berhaji di usia yang masih muda. Tidak ada salahnya bagi kita untuk menabung atau mengamankan dana dan aset kita di masa depan untuk tabungan haji. 

Amankan dana dan asetmu untuk bekal berangkat ke Baitullah dengan cara mengembangkannya melalui platform P2P Funding Syariah dari ALAMI. Dapatkan ujrah atau imbal hasil setara dengan 14-16% pa. Download aplikasinya segera di

ALAMI P2P Funding Syariah
ALAMI P2P Funding Syariah

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments