Isra Mi'raj
published 23/02/2022 - 5 Min Read

Hikmah dan Peristiwa yang Terjadi dalam Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Bulan Rajab dalam penanggalan Hijriah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan Rajab ada satu peristiwa penting di dalam Islam, yakni perjalanan Isra dan Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. 

Peristiwa Isra Mi’raj sangat berarti bagi umat Islam, karena di dalam peristiwa ini perintah shalat pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai mana kita ketahui, perintah shalat merupakan bagian dari rukun Islam yang kedua, dan menjadi ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Dan untuk peringatan Isra Mi’raj di tahun 2022 ini atau 1443 Hijriah jatuh pada tanggal 28 Februari 2022.

Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Peristiwa Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW dijelaskan Allah SWT dalam QS Al-Isra ayat 1. 

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Isra merupakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis di Yerusalem, Palestina. Jarak Makkah ke Yerusalem sekitar 1.239 kilometer yang pada sekitar 621 Masehi normalnya ditempuh dengan perjalanan kuda atau unta sekitar sebulan. Namun, Nabi Muhammad SAW mencapainya hanya dalam semalam.

Sementara itu, mi’raj adalah peristiwa saat Nabi Muhammad dari Baitul Maqdis di Yerusalem ke Sidratul Muntaha, melewati 7 langit. Rasulullah SAW akhirnya tiba di Sidratul-Muntaha, yang merupakan simbol puncak pengetahuan yang paling mungkin dicapai makhluk. Pada zaman itu tak ada satu pun orang yang mempercayai peristiwa Isra Mi’raj yang dialami Nabi SAW. Kecuali hanya satu orang yang mempercayai peristiwa tersebut dengan rasa keimanan yang tinggi yakni sahabat beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq. 

Seperti yang telah disebutkan di atas, peristiwa Isra Mi’raj adalah turunnya perintah shalat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Awalnya, jumlahnya 50 kali sehari. Namun, setiap kali Rasulullah SAW turun dari Sidratul Muntaha, Nabi Musa a.s. mengingatkan beliau bahwa jumlah tersebut terlalu besar. Nabi SAW diminta meminta keringanan, hingga tersisa 5 rakaat sehari semalam.

Peristiwa yang Dialami Nabi SAW saat Isra Mi’raj

Pada malam sebelum mengalami Isra dan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW tengah bermalam di rumah Hindun binti Abu Thalib, sepupu beliau yang dikenal dengan nama Ummu Hani. Setelah tidur sejenak, Nabi terjaga dan mengunjungi Ka’bah. 

Di sana, beliau mengantuk hingga terlelap. Saat itulah malaikat Jibril datang dan membangunkan beliau hingga 3 kali. Oleh Jibril, Nabi diantarkan ke buraq, sejenis hewan yang lebih tinggi dari himar (keledai), dan lebih pendek dari baghal (hewan hasil persilangan antara keledai jantan dan kuda betina).

Buraq memiliki sayap dan berwarna putih susu. Dalam kitab Qishshah Mi’rajin Nabi karya Syaikh Najmudin Al Ghozi, digambarkan dalam perjalanan dari Ka’bah ke Baitul Maqdis, Nabi Muhammad SAW mengalami perhentian beberapa kali seperti Madinah, kemudian ke tempat Nabi Musa berteduh saat diburu Firaun, Bukit Sinai, hingga Betlehem tempat kelahiran Nabi Isa a.s.

Selain itu juga, ada beberapa peristiwa lain yang dialami Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

  • Nabi SAW melihat Jin Ifrit yang mengikuti nabi dengan membawa obor. 
  • Nabi SAW kemudian melintasi sekelompok yang bercocok tanam, lantas langsung memanen hasilnya. Dan setiap kali memanen, tanaman itu kembali seperti semula. Ini adalah gambaran umat yang berjuang untuk agama Allah, dan Allah mengganti apa yang telah mereka infakkan. 
  • Nabi SAW kemudian mencium aroma harum Masyitah, yang memegang teguh keyakinannya kepada Allah SAW, meski ia dan anak-anaknya dihukum dengan dimasukkan ke dalam penggorengan oleh Firaun.
  • Nabi bertemu pula dengan sekelompok orang yang yang memukul kepala dengan palu hingga pecah, lantas kepala itu utuh kembali dan dipukuli lagi. Ini gambaran orang yang malas atau meninggalkan shalat maktubah (shalat wajib). 
  • Nabi melintasi sekelompok orang yang hanya mengenakan pakaian untuk menutupi kemaluan, digiring selayaknya binatang ternak, dan memakan tumbuhan berduri. Mereka adalah gambaran umat yang enggan berzakat meski sudah waktunya, seperti binatang ternak yang tidak mempunyai hati nurani. 
  • Nabi juga bertemu orang yang memakan daging busuk, sebagai perumpamaan umat yang berzina. 
  • Nabi juga bertemu sekelompok orang yang berenang di sungai darah dan dilempari batu-batu. Itu adalah gambaran orang yang memakan harta riba.
  • Nabi bersua pula dengan orang-orang yang mengumpulkan kayu bakar, mengikat dan memanggulnya, tetapi beban kayu bertambah. Mereka adalah simbol dari umat yang mengemban banyak amanah, namun tidak ditunaikan, dan malah menambah amanah lainnya. 
  • Nabi melintasi orang yang saling mengguntingi lidah dan bibir dengan gunting besi, gambaran ahli fitnah. 
  • Nabi bertemu kaum yang mencakar wajah dengan kuku panjang dari tembaga, gambaran orang yang gemar mengumpat dan menyebarkan aib.
  • Nabi berjumpa pula dengan wanita yang memakai perhiasan serba indah, yang merupakan gambaran dunia yang bisa melalaikan orang dari akhirat. Kelak akan ada perwujudan lain, wanita itu menjadi tua renta, yang menandakan betapa dekatnya dunia menuju hari kiamat. 

Sesampainya di Baitul Maqdis, Nabi Muhammad SAW mengerjakan shalat dua rakaat, menjadi imam para nabi di tempat tersebut. Beliau juga diberi tiga gelas dengan isi yang berbeda-beda, yatu khamr, susu, dan air putih. Rasulullah memilih susu, yang disebut oleh Malaikat Jibril sebagai memilih fitrah atau agama Islam. 

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW. melakukan mi’raj, melewati langit dunia menuju sidratul muntaha. Dalam proses mi’raj ini, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi pilihan di setiap langit sebagai berikut. Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Pada akhirnya, Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha. Beliau mendapatkan perintah untuk mengerjakan shalat wajib 5 waktu, yang menjadi titik penting perjalanan beliau dalam malam tersebut. 

Hikmah dari Isra Mi’raj Rasulullah SAW

1. Bukti Allah Menyayangi Hambanya

Terjadinya Isra dan Mi’raj berlangsung pada tahun kesedihan bagi Rasulullah SAW, yaitu ketika beliau baru saja ditinggal oleh orang terdekatnya. Saat itu juga, Allah SAW mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan mulianya sebagai bentuk penghiburan dari Allah SAW.

2. Keimanan Meningkat Setelah Cobaan

Cobaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum Isra dan Mi’raj merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan, yaitu dengan kepergian orang terdekatnya. Allah SAW pun menjanjikan umatnya yang dapat melewati cobaan dengan baik serta berpegang teguh pada syariat Islam, maka dirinya akan memperoleh nikmat besar dari Allah SWT.

3. Memperbaiki Kualitas Shalat

Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW juga menerima perintah salat dari Allah yaitu 50 kali dalam sehari, namun jumlahnya terus menurun ketika Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi-nabi lain. Mereka meminta Nabi Muhammad memohon pengurangan jumlah waktu shalat kepada Allah SWT. Hingga pada akhirnya hanya 5 waktu shalat wajib saja untuk ummat Islam.

Ada makna dan hikmah Isra Mi’raj dari perintah salat ini, yaitu mengajak umatnya untuk memperbaiki kualitas shalat sekaligus menjadi bakal memperbaiki hubungan dengan Allah.

4. Terjadi di Malam Hari

Peristiwa perjalanan Isra Mi’raj terjadi di malam hari seperti dalam arti QS Al Isra ayat 1. Alasan yang membuat Allah SWT memilih perjalanan malam itu, karena semua orang sedang terlelap. Perjalanan malam merupakan waktu sangat sepi dan di sinilah perlu dimaknai, bahwa Allah SWT sangat ingin melihat hambanya yang benar-benar beriman. Malam hari juga disebut sebagai waktu paling mustajab untuk berdoa serta mendekatkan diri kepada Allah dibandingkan dengan waktu lainnya.

5. Mempercayai Kekuasaan Allah

Isra dan Mi’raj mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa, karena perjalanan Nabi Muhammad SAW  tersebut seolah tak masuk akal apabila dilakukan hanya satu malam pada zaman itu. Untuk mempercayai kuasanya memang memerlukan keimanan. Selain itu, kejadian dahsyat tersebut mempunyai makna dan hikmah Isra Mi’raj, bahwa mujizat itu nyata dan hanya milik Allah semata.

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments