barakah culture
published 15/09/2021 - 6 Min Read

Barakah Culture: Produktif dengan Pendekatan Spiritual

Sering stres atau depresi saat mengerjakan suatu pekerjaan? Atau selalu merasa cemas setiap saat ketika pekerjaanmu tak kunjung usai? Mungkin kamu selama ini menerapkan sistem atau budaya kerja yang belum tepat. Seperti pada umumnya, untuk mencapai suatu tujuan dalam pekerjaan pasti kita akan bekerja menggebu-gebu tanpa memikirkan kesehatan jiwa dan mental kita sendiri. Hal ini yang sering terjadi di kota-kota besar pada saat menghadapi pekerjaannya. 

Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi yakni menjadikan pekerjaannya sebagai ‘tuhan’, sebab dia menganggap keberhasilan materi yang ia capai berasal dari pekerjaannya itu sendiri. Namun di sisi lain, jiwa atau unsur kerohaniannya menjadi kosong. 

Founder & CEO The Productive Muslim Company, dan juga motivator serta penulis buku The Productive Muslim: Where Faith Meets Productivity, Mohammed Faris membagikan suatu budaya atau model kerja yang berbeda dengan “hustle culture” yang selama ini dipakai oleh industri kerja pada umumnya. Model kerja ini yang dikenalkan oleh Faris ini adalah “Barakah Culture” atau budaya kerja berkah.

Apa itu Barakah Culture atau Budaya Berkah?

Barakah culture adalah budaya kerja dimana kerja lebih mengedepankan unsur spiritual dan mendekatkan diri kepada sang khalik. Menurut Faris, barakah culture adalah tentang mencapai tujuan melalui berkah dari Allah SWT.

“Budaya berkah ini adalah tentang bagaimana mencapai tujuan lebih dengan cara sedikit demi sedikit melalui berkah dari Allah, bukannya cara yang melelahkan menuju keuntungan mater saja,” kata Faris dalam sharing session bersama ALAMI Squads, Jumat (10/9) lalu. 

Faris menjelaskan budaya yang berakar keberkahan jauh lebih bermanfaat dan berkelanjutan daripada budaya hiruk pikuk atau kerja berlebihan (hustle) yang menghancurkan jiwa. Ia menyarankan eksperimen pemikiran bagi individu dan tim untuk berlatih menerapkan budaya berkah ini dengan cara yang membawa mereka menuju kesuksesan nyata hidup. 

Lalu seperti apa budaya berkah yang diterangkan oleh Mohammed Faris ini? Berikut ini 11 karakter sekaligus perbedaannya dengan budaya kerja berlebihan:

9 Perbedaan Karakter Barakah Culture dan Hustle Culture

  1. Orientasi kepada Allah vs Orientasi pada Ego

Budaya kerja berkah atau barakah culture selalu berorientasi pada sang pencipta yakni Allah SWT. Faris mengatakan mengenal Allah SWT tidak hanya melalui ibadah formal yang dilakukan setiap hari saja, tetapi melalui setiap kata, perbuatan dan pilihan sehari-hari yang dibuat seseorang. 

Budaya berkah atau barakah culture menyerahkan segala hasil pekerjaan yang telah dilalui kepada Allah. Dalam barakah culture di setiap pekerjaan seseorang akan sadar akan adanya campur tangan Allah SWT. 

Sebaliknya, budaya Hustle adalah tentang hanya melayani ego diri sendiri. Ego merupakan nafsu yang ada di dalam diri setiap manusia jika tidak dipelihara secara spiritual, seseorang akan bersifat kekanak-kanakan, egois dan cenderung emosi. Di dalam bisnis, perilaku ini sering dimanifestasikan dalam dorongan obsesif untuk kesuksesan pribadi. 

  1. Memiliki Dampak untuk Orang Lain vs Mementingkan Diri Sendiri 

Budaya berkah atau barakah culture selalu memegang tanggung jawab atas semua pekerjaan, di mana mereka yang bekerja dengan prinsip barakah culture akan selalu membawa dampak terhadap orang lain. Hal ini menuntut agar kita menjalani kehidupan, baik secara individu maupun kolektif di tengah-tengah masyarakat. 

Sebaliknya, budaya Hustle adalah tentang kesuksesan pribadi yang diukur dari segi materi. Terkadang keberhasilan mendapatkan materi ini orang sering menyebutnya sebagai suati kemerdekaan finansial, di mana segala hal bisa dibeli dengan uang. Padahal, pada akhirnya, jika kamu menggali lebih dalam, budaya hiruk pikuk atau hustle culter hanya melayani ego mereka sendiri.

“Budaya Berkah adalah tentang memiliki misi yang melampaui diri kamu sendiri. Ini berasal dari pengakuan bahwa tujuan akhir kamu adalah untuk menyembah Allah dan bertindak sebagai wakil-Nya (khalifah) di bumi,” kata Faris.

  1. Fokus pada Akhirat vs Bersifat Duniawi

Budaya berkah menurut Faris mengambil pandangan hidup jangka panjang dan mengakui bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan suatu hari akan datang ketika kata-kata dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Menjalankan barakah culture akan membuat kamu sadar memfokuskan diri kamu sendiri terhadap investasi masa depan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni akhirat. 

Sementara jika masih menerapkan hustle culture, maka akan terjebak pada mentalitas yang saat ini sedang menjamur di masyarakat yakni YOLO (you only live once). Mentalitas ini memiliki pandangan hidup jangka pendek. Hal ini akan mendorong kamu untuk ‘mendapatkan semuanya’ secepat mungkin.

Misalnya, Faris memberi contoh seorang penulis yang mengadopsi budaya Barakah akan menulis bukunya hingga seribu tahun, sehingga dianggap sebagai pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat lama setelah mereka pergi. Sementara bagi seorang penulis yang mengadopsi budaya Hustle, di sisi lain, hanya akan fokus untuk mencapai daftar buku terlaris dalam minggu-minggu pertama peluncuran dan bergegas melalui proyek bukunya karena dia mencoba menangkap “tren” baru sebelum terlambat.

  1. Menerima Hasil dengan Ridha Allah vs Fokus pada Hasil

Budaya berkah difokuskan pada penyampaian pekerjaan yang diridhai Allah. Ini berfokus pada dua kondisi yang diperlukan agar tindakan kita dapat diterima:

  • Tulus, niat baik; dan,
  • Usaha & tindakan yang tulus

Sementara jika berpedoman pada budaya hiruk pikuk, hanay akan berfokus pada hasil material, di mana untuk mencapai tujuan akan membenarkan segala cara, yang penting hasil sesuai dengan cita-cita.

Contohnya adalah, kehidupan seorang petani yang berpedoman pada budaya berkah dan si tukang kayu yang masih berpedoman pada hustle culture. Petani atau akan menanam benihnya, menyirami tanahnya, dan bekerja keras di kebunnya, namun jika kebunnya tidak berbuah seperti yang diharapkan, dia menerimanya sebagai ketetapan Allah. Kemudian ia memperbarui niatnya, dan bekerja lebih keras untuk musim panen selanjutnya depan. Dia tidak kecewa dengan hasil kebunnya karena niatnya murni dan dia melakukan segala yang mungkin untuk membantu kebunnya tumbuh. Dia juga tahu bahwa sisanya tidak terserah padanya.

Kemudian, seorang tukang kayu yang berpedoman pada hustle culture memiliki gambaran yang pasti tentang apa yang dibutuhkan produknya untuk dianggap sukses. Jika dia gagal memproduksi sebuah furnitur maka dia akan kesal dengan peralatannya, pada dirinya sendiri, dan bahkan mungkin depresi karena dia pikir dia tidak cukup baik. 

Kesimpulannya, budaya Barakah adalah tentang berfokus pada apa yang dapat kamu kendalikan—niat dan tindakan kamu—dan menyerahkan apa yang tidak berada dalam kendali kamu kepada Allah (SWT). Sementara hustle culture adalah menjalani stres sehari-hari untuk mencoba mengendalikan yang tak terkendali, di bawah kesan palsu bahwa harapan selalu memenuhi kenyataan. 

  1. Pola Pikir Rezeki Tidak Kemana vs Pola Pikir Rezeki Sempit

Budaya berkah adalah tentang memiliki pola pikir yang berlimpah. Seorang pengikut budaya ini mengakui bahwa berkah dan karunia berasal dari Allah, Dia Abadi, Kerajaan-Nya dan Berkah-Nya tidak terbatas dan tidak terbatas. Kebesaran Allah (SWT) menghilangkan rasa takut kehilangan dan keterbatasan.

Sedangkan, hustle culture berpikir bahwa segala sesuatu akan cepat habis dan langka. Sehingga segala sumber daya harus cepat didapatkan, jika tidak akan didapatkan oleh orang lain. Menurt Faris, hal ini tak ubahnya seperti binatang buas yang memperebutkan buruan. 

  1. Menerima Apa Adanya vs Tidak Pernah Puas

Budaya berakah adalah tentang mendapatkan ridha dari Allah SWT. Segala yang kamu dapatkan patut disyukuri apa pun itu hasilnya meski kurang sesuai dengan harapan. Sementara berbeda dengan hustle culture atau budaya hiruk pikuk yang selalu tidak pernah puas atas segala hal, dan tidak pernah menerima kenyataan dengan ikhlas. 

Namun, pernyataan di atas terkadang ada timbul pertanyaan, apakah kita tidak boleh berambisi atau memiliki tujuan tertentu? Menurut Faris jawabannya adalah tergantung. Jika ambisimu berpusat kepada Allah SWT, fokus pada akhirat, maka kamu harus mencari ambisi dengan ridha Allah. Ketika kamu mendapatkan sesuatu dari ambisimu namun belum maksimal, maka terimalah, dan anggap ini pemberian dari Allah SWT dengan ridha-Nya.  

Namun, jika ambisi kamu berpusat pada ego, fokus pada duniawi dan semata-mata terkait dengan kesuksesan pribadi, berapapun biayanya, maka kamu akan jatuh cinta pada kesuksesan yang bersifat sementara dan fatamorgana. 

  1. Hidup Tenang x Hidup Terburu-buru

Seseorang yang menerapkan budaya berkah atau barakah culture, di dalam hidupnya pasti akan mendapatkan ketenangan, serta tidak dalam keadaan yang terburu-buru. Di dalam hidupnya tidak memiliki beban apa pun sebab segala urusan selalu diserahkan kepada Allah SWT. 

Sementara hustle culture, di setiap waktunya selalu merasa sibuk, tak ada waktu untuk beristirahat. Sebab, di dalam pikirannya selalu terbayang ambisinya. Jika gagal dalam ambisinya maka hidupnya tidak akan tenang dan selalu merasa bersalah. 

  1. Selalu Bersyukur x Mencari Pujian Orang 

Barakah culture pada dasarnya adalah selalu mencari ridha Allah SWT. Seseorang yang menerapkan barakah culture tidak berorientasi pada keuntungan duniawi. Sedangkan hustle culter di mana pun ia berada, selalu mencari titik celah mencari keuntungan. Sebab apa yang ia dapatkan selalu merasa tidak puas. 

Budaya berkah memungkinkan kamu untuk mengenali bahwa kesuksesan apa pun yang kamu miliki pada akhirnya adalah berkah dari Allah. Hal ini menyebabkan seseorang berada dalam keadaan bersyukur yang konstan untuk setiap pencapaian kecil atau besar, dan bahkan untuk kegagalan. 

Budaya hiruk pikuk atau hustle culture adalah tentang mengambil semua pujian. Misalnya seorang akan merasa kesal/sakit ketika orang tidak mengenali mereka, tidak menyukai postingan seseorang, tidak akan kesuksesan orang lain. Ego-sentrisitas membutakan dari menyadari bagaimana segala sesuatu harus bekerja dengan benar. 

  1. Memiliki Rasa Tanggung Jawab vs Selalu Merasa Milik Sendiri

Menerapkan budaya berkah atau barakah culture, kamu akan paham bahwa masing-masing individu memiliki hak dan tanggung jawabnya masing-masing. Hal ini dimulai dengan hak-hak yang kita miliki dan tanggung jawab yang harus dipenuhi seseorang sebagai hamba terhadap Allah SWT. Hal itu mendorong kita untuk terus memenuhi hak-hak orang-orang di sekitar kita, termasuk anggota keluarga, tetangga, tamu, sesama muslim, dan kemanusiaan pada umumnya.

Sementara budaya hustle muncul rasa berhak atas kita. Misalnya setelah seharian bekerja keras, maka pola pikirnya adalah semua ini adalah tentang hak yang didapatkan. Budaya hustle menciptakan mentalitas mementingkan haknya sendiri tanpa melihat ada hak orang lain yang harus diperhatikan juga. 

Nah, itulah 9 perbedaan karakter antara Barakah Culture dengan Hustle Culture. Selanjutnya akan ada lagi seri artikel tentang Bagaimana cara menerapkan barakah culture dalam kehidupan sehari-hari. 
Selagi menunggu artikel berikutnya, yuk kamu beri dampak untuk UMKM di Indonesia agar bisa berkembang lagi, sejalan dengan karakter barakah culture yang sudah dijelaskan di atas. Ikuti campaign pembiayaan UMKM di ALAMI sekaligus kamu mengembangkan keuanganmu lebih baik lagi. Dapatkan ujrah atau imbal hasil setara dengan 14-16% pa. Ayo segera download aplikasinya di Playstore dan Appstore.

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments