latte factor
published 13/08/2021 - 5 Min Read

Waspada Latte Factor, Penyebab Keuanganmu Cepat Habis

Bagi setiap pekerja atau karyawan yang mendapatkan gaji setiap bulannya, pasti sudah harus merencanakan berapa jumlah pengeluaran dan berapa jumlah uang yang harus ditabung. Namun, terkadang ada beberapa pengeluaran kecil yang sering dilakukan setiap hari, sehingga tak menyadarinya jika jumlah uang yang dihabiskan justru besar. Jika kamu sering merasakan hal seperti ini, patut diwaspadai. Artinya kamu sedang dalam siklus latte factor.

Apa Itu Latte Factor?

Dari namanya, latte factor seperti nama jenis minuman kopi, coffee latte. Tapi tentu artinya berbeda serta jauh dari dunia perkopian. Latte factor merupakan istilah untuk berbagai pengeluaran kecil yang kurang penting, tetapi rutin dilakukan, seperti membeli kopi susu setiap hari, membeli air kemasan, belanja online atau bahkan pesan makanan melalui aplikasi. Pengeluaran ini memang seperti dianggap sepele karena melihat nilai barang yang dibeli harganya terbilang kecil. Tapi jika dikumpulkan setiap hari makan hasilnya akan besar juga. Sebetulnya, pengeluaran kecil sehari-hari ini dapat kamu siasati. Namun, karena sudah jadi kebiasaan, jadi cukup sulit dihilangkan.

Kenapa istilah ini dihubungkan dengan jenis minuman kopi latte?

Minum kopi susu atau latte merupakan sesuatu yang sudah dianggap menjadi kebiasaan harian yang dikonsumsi oleh banyak orang, terutama kaum pekerja. Membeli kopi susu di kafe-kafe atau kedai memang harganya murah. Misalnya satu gelas kopi susu harganya Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. 

Tapi jika setiap hari membeli kopi susu, apalagi ditambah nongkrong di kafe atau kedai maka uangmu akan terkuras Rp 140 ribu dalam seminggu. Dalam setahun, kamu menghabiskan uang sekitar Rp 7,3 Juta. Ini baru kopi susu, belum pengeluaran lainnya. Jika dihitung-hitung ternyata besar juga. Padahal dengan uang Rp 7,3 juta itu kamu bisa menabung, atau diinvestasikan dan nilai uangmu akan bertambah setiap waktunya.

Latte Factor Menjangkiti Millennial

Ternyata latte factor ini banyak menjangkiti kaum milenial saat ini, di mana mereka adalah kaum-kaum produktif yang mudah sekali mencari penghasilan. Tetapi, tak sanggup untuk membeli kebutuhan primer di masa depan, misalnya rumah. Generasi milenial mudah terjangkit latte factor disebabkan generasi ini sudah terbiasa dengan teknologi serta kemudahan-kemudahan pembayaran secara online. Kebiasaan inilah yang akhirnya menjadikan generasi milenial lebih gampang mengeluarkan uang.

Dikutip dari Tirto.id, Psikolog Ajeng Raviando mengatakan, latte factor di kalangan milenial terjadi karena beberapa alasan. Bisa jadi karena kebiasaan, bisa juga karena impulsive buying atau karena tekanan dari lingkungan. Jika setiap pagi seseorang membeli kopi di kedai kopi dekat kantor, maka secara tidak sadar ia akan selalu mampir ke kedai tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Atau ketika teman-teman sebayanya mengajak untuk nongkrong di coffee shop mahal, maka ia akan mengikuti demi menjaga pertemanan.

Latte Factor Menurut Pandangan Islam

Di dalam Al-Qur’an sendiri, Islam mengajarkan untuk berhemat. Latte Factor merupakan salah satu sikap boros, dan menurut Al-Qur’an sikap boros merupakan salah satu sikap mengingkari Tuhan. Hal ini sesuai dengan kutipan ayat Al-Qur’an Al-Isra ayat 27.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya,”.

Nah, dalam Islam pun sudah jelas, bagaimana sikap boros itu sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah SWT. 

Mengatasi Latte Factor

Cara untuk mengatasi latte factor yang paling mudah adalah menyisihkan terlebih dahulu pendapatan per bulan. Dengan cara ini kamu bisa meminimalisir pengeluaran yang tak terduga setiap bulannya. Selain itu, hal ini bisa jadi poin plus juga karena hitung-hitung kamu sekalian menabung untuk investasi di masa depan. Siapa tahu suatu hari kamu akan butuh uangnya untuk kebutuhan yang urgen.

Adapun cara lain untuk mengatasi latte factor adalah dengan bertanya kepada diri sendiri. Saat kamu akan membeli suatu barang, apakah kamu benar-benar membutuhkan barang tersebut, atau hanya memuaskan diri sesaat saja? Pastikan barang yang kamu beli ini benar-benar dibutuhkan untuk keseharian kamu. Meski saat ini ada istilah ‘self-reward’ memberikan penghargaan terhadap diri sendiri dengan memanjakan membeli apa pun yang kamu mau.Tapi perlu diingat ‘self-reward’ secara berlebihan justru bukan untuk memanjakan diri di masa mendatang. 

Ada beberapa hal kecil yang bisa kamu hindari agar latte factor ini tak terjadi di dalam hidup kamu.

1. Kurangi Beli Kopi di Kedai atau Kafe

Memang nongkrong atau berkumpul di kafe dan kedai bersama teman-teman adalah suatu kegiatan yang bisa melepas penat di kala selesai pekerjaan. Tapi usahakan jangan dilakukan setiap hari. Boleh saja kamu membeli kopi susu di kedai, misalnya dua minggu sekali. Meski saat ini kedai-kedai kopi sedang dibatasi karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga nongkrong di kedai atau kafe agak sedikit berkurang.

2. Usahakan Masak Makanan Sendiri

Memang adanya aplikasi online pembelian makanan memudahkan kita untuk membeli makanan dengan cepat. Apalagi kamu tidak perlu ke tempat restorannya, cukup diantar oleh abang-abang ojek online. Ditambah ada diskon restoran hingga gratis ongkir, membuat kamu terlena. 

Usahakan memasak sendiri makananmu, kamu cukup membeli bahan makanan dalam seminggu, lalu bisa dimasak setiap hari. Apalagi saat ini sedang diberlakukan PPKM, sebagian besar karyawan kantoran bekerja dari rumah. Banyak waktu di rumah untuk memasak makanan mulai dari sarapan, makan siang hingga makan malam.

3. Kurangi Belanja Online

Seperti yang disebutkan di atas, kalangan milenial dimudahkan dengan kecanggihan teknologi. Secara tak sadar berbagai aplikasi belanja online terinstal di handphone-masing-masing. 

Mungkin ada beberapa di antara kamu yang di kala senggang membuka aplikasi belanja online, kemudian melihat barang-barang yang terlihat cantik, ditambah dengan harganya yang sedang ada diskon. Tak sadar kamu memasukkannya ke dalam kantung belanja online. Hal inilah yang sering tidak disadari oleh kalangan milenial. 

4. Alokasikan Anggaran Hiburan 

Untuk memastikan keuanganmu tidak bocor, kamu bisa melakukan alokasi anggaran hiburan yang terpisah dengan anggaran utama kebutuhan makanmu. Misalnya, kamu menganggarkan untuk membeli kopi dan kebutuhan sosial dan hiburan lainnya sepanjang seluruh bulan maksimal hanya boleh 5-10% dari penghasilanmu selama sebulan. Sehingga, kamu bisa melakukan keinginanmu namun tetap terkontrol.

Itulah penjelasan mengenai latte factor dan bagaimana cara mengatasinya secara sederhana. Semoga artikel ini bisa menginspirasi kamu agar bisa berhemat lagi. Namun, hemat saja tidak cukup bisa merdeka finansial di hari tua, perlu menabung dan investasi. 

Salah satu cara yang kamu bisa lakukan adalah mengembangkan keuanganmu lebih berguna lagi, yakni ikut pendanaan di Peer to peer lending Syariah ALAMI. 

Dapatkan ujrah atau imbal hasil dari pendanaan kamu terhadap UMKM di Indonesia setara hingga 14% – 16% p.a. ALAMI menyediakan pendanaan secara syariah yang kemudian disalurkan kepada UMKM yang sedang berkembang di Indonesia. Karena berbasis syariah maka return yang didapat berdasarkan imbal hasil dari pendanaan investor atau funder. Tertarik untuk ikut pendanaan di ALAMI? Ayo segera ikut pendanaannya dan segera download aplikasinya di Play Store dan App Store!

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments