wakaf
published 29/12/2021 - 6 Min Read

Mempelajari Wakaf, dari Pengertian, Syarat, Rukun hingga Wakaf Era Digital

Wakaf adalah salah satu amalan di dalam Islam yang tidak lekang oleh waktu meski orang yang melakukannya telah meninggal. Pengertian wakaf adalah amalan yang menyerahkan sebagian harta benda untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu, demi kemaslahatan umat.

Secara harfiah, wakaf berasal dari bahasa Arab ‘waqafa’ yang artinya ‘menahan’ atau berhenti’. Menurut Badan Wakaf Indonesia (BWI), wakaf diartikan menahan harta untuk kemaslahatan orang lain. Namun, beberapa mazhab memiliki definisinya tersendiri mengenai wakaf. 

Mazhab Hanafi, misalnya, yang mendeskripsikan wakaf sebagai suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus tetap sebagai hak milik, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada pihak lain demi kebajikan, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Sementara Mazhab Maliki berpendapat bahwa dalam wakaf, seseorang tidak melepaskan hartanya dari kepemilikan. Namun, dengan wakaf dapat mencegah wakif (orang yang mewakafkan hartanya) melakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta tersebut kepada pihak lain. Wakif juga berkewajiban menyedekahkan manfaatnya, dan tidak boleh menarik kembali wakafnya.

Terakhir, Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa wakaf merupakan tindakan melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif. Wakif bahwa tidak boleh melakukan apa pun terhadap harta yang diwakafkan.

Dalil Tentang Wakaf

Ada pun dalil atau hukum tentang wakaf telah disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Baqarah ayat 267 yang berbunyi, 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

Selain itu, dalil mengenai wakaf juga tertuang dalam surat Ali Imran ayat 92.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh, Allah maha mengetahui.”

Syarat dan Rukun Wakaf

Orang yang ingin mewakafkan hartanya memiliki syarat seperti baligh, berakal dan merdeka atau bukan hamba sahaya. Hal ini berarti orang yang tidak memiliki syarat tersebut tidak sah jika ingin mewakafkan hartanya. 

Dalam mengamalkan wakaf, orang yang ingin memberi wakaf juga tidak boleh memberi syarat-syarat yang haram dari syariat Islam. Jika orang yang ingin berwakaf memberikan syarat-syarat yang memberatkan atau menyimpang dari syariat Islam, maka wakaf tersebut hukumnya tidak sah.

Sementara bagi penerima wakaf atau mauquf’alaih bisa satu orang saja. Syarat dari penerima wakaf adalah tidak memiliki tujuan maksiat dalam penggunaan harta wakaf, dan dapat diserah terimakan. Selain itu orang yang menerima wakaf juga harus berakal, karena orang yang tidak berakal tidak bisa membelanjakan hartanya untuk tujuan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 5 yang berbunyi,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاۤءَ اَمْوَالَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللّٰهُ لَكُمْ قِيٰمًا وَّارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَاكْسُوْهُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”

Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. 

Rukun wakaf menurut fiqh ada 4 macam, yaitu:

  • Ada wakif (orang yang mewakafkan) 
  • Mauquf‘alaih (pihak yang diserahi wakaf)
  • Mauquf (harta yang diwakafkan), –
  • Shighat atau iqrar (pernyataan atau ikrar wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan

Jenis-Jenis Wakaf

Wakaf memiliki banyak jenisnya. Berikut adalah jenis-jenis wakaf.

1. Wakaf Ahli

Wakaf ahli atau biasa disebut dengan wakaf keluarga adalah wakaf yang dilakukan kepada keluarganya dan kerabatnya. Wakaf ahli dilakukan berdasarkan hubungan darah atau nasab yang dimiliki antara wakif dan penerima wakaf. Di beberapa negara, amalan wakaf ahli ini sudah dihapus seperti di Turki, Lebanon, Syria, Mesir, Irak dan Libya. 

Wakaf ahli ini dihapus karena beberapa faktor seperti tekanan dari penjajah, wakaf ahli dianggap melanggar hukum ahli waris, selain itu wakaf ahli dianggap kurang memberi manfaat yang banyak untuk masyarakat umum.

Di Indonesia, wakaf ahli masih berlaku, begitu juga di Singapura, Malaysia dan Kuwait. Hal ini dianggap karena bisa mendorong orang-orang untuk berwakaf. Di Indonesia, wakaf ahli juga tertulis dalam Undang-Undang nomor 42 tahun 2006 Pasal 30. Di dalam Undang-Undang dituliskan bahwa,

‘Wakaf ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperuntukkan bagi kesejahteraan umum sesama kerabat berdasarkan hubungan darah (nasab) dengan Wakif.’

‘Dalam hal sesama kerabat dari wakaf ahli telah punah, maka wakaf ahli karena hukum beralih statusnya menjadi wakaf khairi yang peruntukannya ditetapkan oleh Menteri berdasarkan pertimbangan BWI.’

2. Wakaf Khairi

Wakaf khairi adalah wakaf yang diberikan untuk kepentingan umum. Wakaf khairi adalah wakaf dimana pihak pewakaf memberikan syarat penggunaan wakafnya untuk kebaikan-kebaikan yang terus menerus seperti pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit, rumah anak yatim dan lain-lain. Wakaf khairi adalah jenis wakaf untuk mereka yang tidak memiliki hubungan seperti hubungan keluarga, pertemanan atau kekerabatan antara pewakaf dan orang penerima wakaf.

3. Wakaf Musytarak

Wakaf musytarak merupakan suatu wakaf kombinasi antara wakaf khairi (kebaikan) sesuai dengan peruntukan harta wakaf dan wakaf ahli (keluarga), jadi wakaf musytarak adalah wakaf yang mana penggunaan harta wakaf tersebut digunakan secara bersama-sama dan dimiliki oleh keturunan si pewakaf. Wakaf musytarak ini masih diterapkan oleh beberapa negara seperti di Malaysia dan Singapura.

4. Wakaf benda tidak bergerak

Selain wakaf di atas, wakaf juga dibagi menjadi wakaf berdasarkan jenis harta. Salah satunya adalah wakaf benda tidak bergerak. harta-harta yang dimaksud adalah bangunan, hak tanah, tanaman dan benda-benda yang berhubungan dengan tanah.

5. Wakaf benda bergerak selain uang

Ada juga wakaf benda bergerak selain uang yaitu benda-benda yang bisa berpindah seperti kendaraan. Selain itu ada juga benda yang bisa dihabiskan dan yang tidak, air, bahan bakar, surat berharga, hak kekayaan intelektual dan lain-lain.

Hikmah dan Manfaat Wakaf 

Hikmah dan manfaat wakaf yang dapat kita petik adalah bisa membagikan sebagian harta kita untuk kebutuhan sosial atau ibadah. Selain sebagai salah satu cara mendekatkan diri pada Allah SWT, wakaf juga memberikan pahala yang terus mengalir karena bisa memberikan manfaat tak terhingga bagi banyak orang.

Wakaf juga dapat melatih jiwa sosial seseorang dan keinginan untuk saling membantu satu sama lain. Tidak perlu ragu lagi jika ingin mulai berwakaf, karena akan ada banyak manfaat dan hikmah yang bisa didapatkan. 

Wakaf tidak hanya bermanfaat bagi kaum dhuafa atau anak yatim saja, tapi hikmah wakaf juga akan dirasakan oleh orang yang memberi, mengelola dan menerima wakaf. Dengan berwakaf, seseorang turut memberikan memberikan kesejahteraan bagi banyak orang, seperti keluarga, kerabat, serta diri orang yang berwakaf itu sendiri.

Berikut ini 7 dari hikmah wakaf

1. Menyadari Harta Hanya Titipan Allah SWT

Dengan berwakaf, seseorang dapat memahami bahwa harta benda yang dimiliki bukanlah sesuatu yang abadi. Seperti yang dijelaskan dalam Islam mengenai zakat penghasilan, kamu harus memberikan sebagian harta yang diperoleh, karena ada hak orang lain di dalamnya.

2. Mendapat Amalan Jariyah

Selama harta benda yang diwakafkan masih dimanfaatkan oleh masyarakat, amalan wakaf akan menjadi sedekah jariyah. Artinya pahala yang terus mengalir dan tidak ada hentinya, sekalipun Anda sebagai pemberi wakaf sudah meninggal dunia.

3. Mendorong Pembangunan Negara

Hikmah wakaf juga dapat bermanfaat untuk mendorong percepatan pembangunan negara. Salah satunya melalui bidang pendidikan dengan mendirikan berbagai sarana dan fasilitas umum yang memadai. Seperti, pembangunan sekolah, pesantren, serta pemberian beasiswa pendidikan untuk santri.

4. Meningkatkan Rasa Persaudaraan

Selanjutnya, hikmah wakaf selanjutnya membangun dan memperkuat tali persaudaraan diantara umat Muslim. Wakaf akan menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain, sehingga akan terbangun rasa persaudaraan di antara pemberi wakaf dengan penerima wakaf tersebut.

5. Meningkatkan Rasa Sosial dan Membantu Sesama

Hikmah wakaf dalam kehidupan juga menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi. Misalnya, kamu mewakafkan tanah untuk orang yang tidak mempunyai tempat tinggal.

6. Mendorong Kesejahteraan Umat

Harta dan benda yang diwakafkan untuk kepentingan umum akan mendorong kesejahteraan umat di sekitar. Salah satu caranya adalah dengan membangun sarana atau fasilitas umum yang lebih baik.

7. Mendukung Sarana Ibadah dan Aktivitas Sosial

Umumnya, wakaf dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan sarana ibadah yang lebih baik. Seperti, mendirikan Masjid, Madrasah, pondok pesantren, dan sekolah gratis yang nantinya akan digunakan sebagai tempat dakwah dan pendidikan Islam, serta pelayanan umat di bidang lainnya.

Di Indonesia sendiri, amalan wakaf sudah dilakukan oleh orang-orang Islam sebelum Indonesia merdeka. Maka dari itu pemerintah Indonesia menetapkan Undang-Undang yang mengatur tentang wakaf di Indonesia. Peraturan tersebut tercantum di dalam Undang-Undang nomor 41 Tahun 2004. Di dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan pengertian wakaf, tujuan wakaf, unsur-unsur wakaf dan tata cara pelaksanaannya dijelaskan dalam Undang-Undang nomor 42 Tahun 2006.

Wakaf Era Digital

Inovasi teknologi telah mendorong digitalisasi di berbagai bidang, termasuk dalam mengamalkan wakaf. Untuk itu, sebagai upaya mempercepat transformasi wakaf produktif, pengelolaan wakaf harus memanfaatkan teknologi dan platform digital.

Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin pun menegaskan mengenai pemanfaatan teknologi untuk amalan wakaf agar lebih produktif lagi. Dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ma’ruf menjelaskan, penggunaan platform digital dapat mempermudah para wakif (pihak yang mewakafkan harta benda miliknya) untuk berwakaf.

Menurut Ma’ruf pengumpulan wakaf, saat ini bisa dilakukan melalui platform digital yang sudah tersedia saat ini. Selain itu, lanjut Wapres, digitalisasi juga dapat digunakan dalam memutakhirkan database nazhir (pihak yang menerima harta benda dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai peruntukkannya).

Wakaf adalah cara seseorang untuk menghijrahkan hartanya agar bisa bermanfaat bagi kemaslahatan umat. 

Sama seperti pendanaan di ALAMI, uangmu yang bisa juga bermanfaat untuk UMKM yang sedang berkembang di Indonesia. Ikuti pendanaan di ALAMI peer to peer lending syariah, uangmu akan dikelola secara syariah dan dapatkan ujrah atau imbal hasil setara dengan 14%-16% pa. Ayo segera download aplikasinya di Playstore atau Appstore.
Powered by ALAMI Institute 

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and pray, no hustle culture. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments