Hari Batik Nasional
published 01/10/2021 - 4 Min Read

Sejarah Penetapan Hari Batik Nasional Hingga Jadi Sumber Ekonomi Negara

Setiap tanggal 2 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan Hari Batik Nasional ini karena batik sebagai masuk ke dalam daftar warisan budaya nonbendawi oleh UNESCO pada 2009 lalu. Setelah ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, seluruh pejabat pemerintahan dihimbau untuk menggunakan batik tepat pada tanggal 2 Oktober sebagai salah satu bentuk kecintaan kita terhadap budaya Indonesia.

Batik adalah sesuatu yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kain khas yang satu ini tidak hanya dipandang karena keindahannya saja, tetapi juga menyimpan cerita sejarah yang sangat panjang. Mulai dari budaya, perseteruan, tingkat kehormatan, hingga pada akhirnya berhasil diakui oleh PBB sebagai warisan budaya.

Nama batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti menulis dan juga titik. Batik di Indonesia mulai ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, di mana konon katanya batik merupakan refleksi pendiri Majapahit, yaitu Raden Wijaya yang selalu menggunakan batik kawung. Menurut buku Kebanggaan Indonesia Batik Menjadi Warisan Dunia karya Dodi Mawardi (2021:26) dalam cerita sejarah Hari Batik Nasional, disebutkan bahwa batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto yang kala itu sedang menghadiri konferensi PBB. 

Sejarah Hari Batik Nasional dan Pendaftaran ke Warisan Budaya Nonbendawi

Presiden ke-2 RI Soeharto sering memberikan kain batik sebagai oleh-oleh kepada tamu negara yang datang. Kemudian batik didaftarkan untuk mendapat Intangible Cultural Heritage di UNESCO pada tanggal 4 September 2008. Hingga akhirnya UNESCO secara resmi menerima batik dan mengukuhkannya sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi setelah pelaksanaan sidang ke-4 UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Dengan adanya peresmian tersebut, pemerintah Indonesia segera menerbitkan Keppres Nomor 33 Tahun 2009 tentang penetapan Hari Batik Nasional dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia. Sejak saat itu, setiap perayaan Hari Batik Nasional, pejabat pemerintah dan instansi lainnya wajib memakai baju batik sebagaimana yang tercantum dalam Surat Edaran Nomor 003.3/10132/SJ tentang Pemakaian Baju Batik

Filosofi Batik 

Setiap gores simbolnya merupakan manifestasi kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Batik tak hanya dipandang sebagai sebuah produk melainkan juga menyimpan beragam sisi sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Batik bukan hanya soal fashion, seni tradisi ini selalu menggambarkan setiap tahapan dalam daur hidup manusia dan kedekatannya dengan Tuhan. Filosofi dalam pola batik merupakan harapan dan doa-doa yang menyebabkan batik selalu dihadirkan dalam berbagai upacara adat masyarakat Jawa.

Di setiap helai kain batik, selalu dihiasi motif dengan warna-warna alam yang cantik. Ada warna alam yang lembut, bahkan dalam perkembangannya, warnanya cenderung kontras dan cerah. Pola batik ini terkesan berantakan. Namun jika sudah diwarnai, apalagi sudah dijahit dalam bentuk busana, kain batik akan tampak elegan dipandang. Dalam sebuah helai kain batik, ada filosofi yang menjadi pelajaran dan bisa dimaknai dalam sebuah kehidupan, seperti:

  1. Ketekunan dan keuletan perajin ketika menyanting

Kendati rumit, para perajin sangat menikmati proses ini. Hasil dari mencanting hingga proses mewarnai ini, terciptalah sehelai kain batik yang indah dan menawan. Sikap para perajin batik ini bisa diaplikasikan dalam menjalankan tugas, dimana dalam menjalankan tugas harus ulet dan telaten, sehingga menghasilkan sebuah pekerjaan yang memuaskan. 

  1. Motif batik yang beragam menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia

Keberagaman motif batik tersebut bukannya menjadikan kualitas batik semakin rendah, namun justru semakin tinggi. Dalam sebuah helai kain batik, bahkan kerap ada perpaduan corak. Misalkan motif sekar jagad dipadukan dengan motif parang rusak atau pring sedapur. Perpaduan motif ini menjadikan batik semakin indah. Filosofi dari paduan batik ini adalah, perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat kita, seharusnya menjadikan suasana semakin harmonis.

  1. Tercermin karakter yang menunjukkan kepribadian bangsa

Bangsa Indonesia harus bangga memiliki batik sebagai bagian dari kebudayaan. Batik tidak dimiliki oleh negara lain, selain di Indonesia. Batik bahkan sudah menjadi idola penduduk negara di belahan dunia. Selayaknya, masyarakat Indonesia juga menjadi cermin kepribadian bagi bangsa lain.

Batik Sebagai Sumber Ekonomi Bangsa

Produk batik cukup berperan dalam perolehan devisa negara melalui capaian nilai ekspor. Misalnya pada tahun 2019, Kementerian Perindustrian mencatat industri batik menyumbang devisa negara sebesar USD17,99 juta. Sementara itu, pada Januari-Juli 2020, nilai pengapalan batik mengalami peningkatan dengan mencapai USD21,54 juta. Tujuan utama pasar ekspornya ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Industri batik khususnya industri rumahan yang jumlahnya lebih dari 700 unit usaha, — berdasarkan data Kementerian Perindustrian, menyerap tenaga sebanyak 1,32 juta orang pada tahun 2019. Masih di tahun yang sama, nilai ekspor produk kerajinan batik nasional menembus hingga USD 892 juta atau meningkat 2,6% dibandingkan perolehan tahun 2018 sebesar USD 870 juta.

Itulah sedikit informasi mengenai sejarah Hari Batik Nasional hingga batik memiliki nilai ekonomi. Sudahkah kamu memakai batik di Hari Batik Nasional ini ? 

Ingin seperti Batik bisa menyumbang devisa negara serta memperkuat ekonomi bangsa? Kamu juga bisa memulainya dengan mudah. Ikuti campaign pendanaan UMKM di ALAMI peer to peer lending syariah. Uangmu akan dikelola secara syariah untuk pembiayaan dan pendanaan UMKM yang sedang berkembang di Indonesia. Dengan mengikuti pendanaan UMKM di ALAMI, kamu juga akan mendapatkan ujrah atau imbal hasil setara hingga 14 % -16 % p.a. Ayo segera download aplikasinya di Playstore dan Appstore.

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments