p2p lending
published 28/06/2021 - 4 Min Read

Simak Cara Dina, Karyawan Swasta, Mengumpulkan Rp100 Juta Pertama dalam Waktu 2 Tahun

Bagi seorang karyawan dengan gaji dan pendapatan tetap, sulit rasanya bisa mendapatkan uang Rp 100 juta dalam waktu yang singkat. Tak hanya mengandalkan menabung, harus dibarengi dengan investasi. Banyak pilihan produk investasi, mulai dari yang risiko tinggi dan rendah. Hal ini seperti yang dilakukan oleh salah satu funder P2P Lending Syariah ALAMI Dina, yang berhasil diwawancara beberapa waktu lalu, (demi kerahasiaan identitas funder, ALAMI tidak akan menyebut nama funder disamarkan/diganti dengan nama lain), menceritakan pengalamannya mengumpulkan uang Rp100 juta dalam waktu paling lama kira-kira 2 tahun.

Ia menggabungkan antara menabung dengan investasi sebagai salah satu cara untuk mengembangkan uangnya lebih besar lagi. Saat ini, kata Dina, ia berinvestasi di berbagai macam produk investasi seperti reksadana dan P2P Lending Syariah di ALAMI. Sebelum mengenal P2P Lending Syariah seperti ALAMI, Dian menaruh uangnya di reksadana. Kemudian, di akhir 2020 lalu, ia mulai ikut pendanaan di ALAMI dengan setoran awal Rp 10 juta.

“Waktu di awal investasi reksadana beberapa tahun lalu, Rp 1-2,5 juta. Di ALAMI Desember 2020 start Rp 10 juta,” jelasnya.

Dapat Ujrah Besar di P2P Lending Syariah ALAMI

Selama 6 bulan ikut pendanaan di ALAMI, sudah Rp 7 juta terkumpul dari ujrah yang ia terima setiap kali jatuh tempo pendanaan.

Mekanismenya saya satu satu, jadi ketika pertama kali invest di ALAMI Rp 10 juta di satu pendanaan. Itu melewati banyak pertimbangan karena di ALAMI kan ada resume keuangannya, profil pinjam dan payornya siapa. Pertama saya invest  Rp 10 juta,” kata Dina.

Di kemudian bulan berikutnya, Dina melanjutkan, ia menaruh uang Rp 20 juta di suatu campaign pendanaan. Meski ia menaruh uang dalam jumlah yang besar, satu pesan yang ingin Dina sampaikan adalah berapa pun jumlah yang diinvestasikan harus konsisten menjalaninya. Jadi, tak harus melulu dengan jumlah yang sangat besar untuk memulai investasi, atau pendanaan di P2P Lending Syariah ALAMI.

“Jadi memang pelan pelan satu-satu, mungkin nominal juga enggak langsung banyak karena memang uang investasinya itu hasil tabungan dan hasil persentase yang disisihkan dari gaji bulanan,” jelasnya.

Ingin mengikuti jejak Dina mendapatkan Rp 100 juta pertamanya? Ayo jangan ragu untuk ikut mengembangkan keuanganmu bersama ALAMI. ALAMI adalah platform P2P Lending terbaik, kamu bisa ikut campaign pendanaan untuk UKM di Indonesia dan memberikanmu ujrah atau imbal hasil sebesar setara 14%-16% per tahun. 

ALAMI memiliki teknologi untuk menganalisis ratusan data untuk menghasilkan pendanaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. ALAMI dapat diakses melalui mobile apps yang bisa didownload melalui Play Store dan App Store. Untuk info lengkapnya atau memulai pendanaan kamu bisa klik di sini!

Menyisihkan Gajian dan Menahan Keinginan

Dina adalah seorang karyawan di Jakarta yang selalu mendapatkan penghasilan setiap bulannya. Salah satu tips yang ia bagikan adalah menyisihkan gajinya untuk investasi saat waktu gajian tiba. 

“Kalau masih menjadi karyawan, sisihkan dana investasi di depan, tentunya setelah ada kewajiban-kewajiban yang lain misalnya cicilan rumah, atau misalnya harus beli beras, semua kewajiban yang tetap itu harus dikeluarkan,” terang dia. 

“Prioritas yang kedua adalah sisihkan untuk investasi. Baru sisanya, silakan digunakan untuk entertainment, misalnya pergi makan, beli makan, nonton, kebutuhan tersier, setelah premier terpenuhi baiknya sisihkan untuk investasi. 

Dina merasakan betapa banyaknya cobaan menahan cobaan hidup konsumtif. Hal ini demi menabung dan investasi. Menurutnya, hidup hemat dan gaya hidup tidak konsumtif salah satu kunci mendapatkan kesuksesan finansial di masa depan. 

“Memang butuh ketahanan diri untuk tidak mengikuti gaya hidup. Kita hidup harus sederhana, Kita perhitungkan, kita cukupi kebutuhan keluarga, orang tua, mertua atau semua yang kita sayangi. Selanjutnya kita sisihkan uang yang kita tabung untuk investasi,” jelasnya. 

Demi menghemat dari gaya hidup konsumtif, lanjut Dina, harus ada financial planning yang harus disusun setiap bulannya. Sebab jika tidak, kata dia, jajan-jajan makanan kecil saja bisa menjadi membengkak di akhir bulan jika tidak dikontrol.

“Ketika di akhir bulan misalnya, kita melihat wah uang saya banyak keluarnya untuk beli boba, kopi susu, jajan di luar. Itu jadi pengingat kita sehingga pengeluaran kita terkontrol tabungan dan investasi kita akan lebih dari yang kita perkirakan sebelumnya,” kata Dina.

Rp100 Juta Pertama Dalam Waktu Dua Tahun

Dina mengatakan untuk mendapatkan Rp 100 juta pertama bisa saja dihasilkan dalam waktu satu atau dua tahun tergantung pendapatan masing-masing. Dina sendiri baru berhasil mengumpulkan Rp100 juta pertamanya dalam jangka waktu dua tahun. 

Financial planning ini harus sesuai dengan pendapatan seseorang, serta tidak boleh memaksakan di luar kemampuan. Sebab setiap orang memiliki rasio pendapatannya masing-masing. 

“Apabila dia memiliki pekerjaan tetap rasio pengeluaran dan pendapatan dia cukup sehat. Apa yang dia keluarkan itu tidak besar dari pendapatan dia. Kalau misalnya pendapatannya Rp 5 juta pengeluaran harus hemat, nggak boleh lebih dari dua juta pengeluaran. Nanti yang satu juta bisa kita tabung, satu juta bisa kita investasikan satu jutanya lagi bisa kita untuk kebutuhan lain lainnya,” jelasnya. 

“Jadi memang harus melihat dulu pendapatannya seperti apa lalu kita planningkan, bisa pakai rasio 30, 30, 20 atau silakan semua orang punya rasio masing masing dengan pertimbangan masing masing. Tapi yang saya katakan selalu alokasikan investasi dan tabungan dari pendapatan,” lanjutnya.

Mengumpulkan uang Rp100 juta pertama kata Dina, bisa dengan instrumen investasi.  Namun, jika ditarget dalam waktu satu tahun menurutnya bisa saja asalkan berani mengambil risiko yang tinggi pula. Sebab prinsip investasi adalah high return high risk.  Ia mengatakan, untuk mendapatkan Rp100 juta pertama 

“Jadi tetap kita lihat, kita harus perhitungkan mau taruh di investasi apa, kita harus tahu produknya, tingkat risikonya seperti apa. Dari situ bisa lihat kira kira kalau mau dapat Rp100 juta kita tarik mundur per bulan saya harus dapat berapa setiap bulan. Kalau  saya mau Rp100 juta dua tahun berarti 24 bulan, per bulan saya harus dapat berapa. Jadi kita tarik mundurnya seperti itu,” ungkapnya.

Jika kamu seorang investor yang moderat atau bahkan progressif kamu harus berani juga mengambil risiko yang tinggi dan nantinya akan mendapatkan return yang tinggi pula. Tapi misalnya Rp100 juta nggak harus setahun, investasinya di produk yang aman-aman saja, kamu berarti termasuk investor konservatif. 

“Nah silakan dipilih produk produk yang memberikan rasa aman yang lebih tinggi,” kata dia.

Konsisten

Salah satu poin terpenting yang ditanamkan Dina adalah konsistensi saat menjalankan sesuatu, termasuk menabung dan investasi. Menurut Dina investasi tidak harus dalam jumlah yang besar. Meskipun dengan jumlah yang sangat kecil tapi jika dilakukan secara berkala maka di akhir tak terasa akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan kita. 

“Konsisten setiap bulan, misalnya Rp10 juta di bulan pertama lalu tidak rajin setelahnya,  dibandingkan Rp2 juta tapi setiap bulan saya investasi hasilnya akan berbeda. Lebih baik banyak investasinya yang sedikit-sedikit tapi konsisten, daripada besar di awal tapi tidak konsisten.”

Selain konsisten, kamu bisa memilih instrumen investasi yang aman seperti P2P Lending Syariah di ALAMI. Caranya kamu tinggal ikut saja pendanaan di ALAMI, dan dapatkan imbal hasil atau ujrah sebesar 14% per tahun. Ujrah tersebut kamu dapatkan dari pendanaan UKM melalui skema invoice financing dengan akad wakalah bil ujrah. 

Jika kamu tertarik, tunggu apa lagi untuk ikut pendanaan bersama ALAMI. Untuk info lebih lanjut bisa klik di sini!

Adhi Muhammad Daryono

Content Specialist at ALAMI

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

Hard work, patience and prayer. Learners of all things, open to new insights

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments