Alami Institute

Pengaruh COVID-19 Terhadap Ekonomi Digital dan Fintech Indonesia

Dibalik pengaruh kesehatan, pandemi COVID-19 memberikan dukungan signifikan bagi ekonomi digital, termasuk fintech di Indonesia

By Ardanu Bagas Wicaksono

|

28 Desember 2021

pengaruh covid19 terhadap ekonomi digital dan fintech

Images by Adobe Stock

Pandemi memberikan dampak signifikan pada kehidupan global. Di sisi lain, ekonomi digital sangat terdorong dengan perubahan perilaku dari masyarakat menuju online, termasuk di Indonesia yang memiliki pasar digital yang besar. Fintech secara umum pun terdorong, khususnya fintech payment, sedangkan fintech lending menghadapi dampak positif dan negatif.

Pengaruh Digital COVID-19 Terhadap Ekonomi Digital dan Fintech Indonesia

Dampak global dari pandemi Covid-19 sangat signifikan, khususnya dari sisi Kesehatan dan sosio-ekonomi, merenggut jutaan nyawa sekaligus memperburuk rasio kemiskinan dan kesenjangan. Namun, satu dampak positif Covid-19 adalah pada sektor digital, mempercepat beberapa tahun adopsi teknologi digital. Indonesia, sebagai pasar digital yang besar dengan ekonomi digital yang berkembang mendapat perhatian khusus dengan pengguna internet yang paling mungkin melakukan pembelian online di dunia. Fintech, sebagai bagian dari ekonomi digital menghadapi kesulitan bisnis, tetapi juga mendapatkan peluang-peluang baru dalam kondisi ini. Artikel ini melihat bagaimana Pandemi covid-19 berdampak pada sektor digital Indonesia, dengan fokus khusus pada lanskap fintech. Lending dan Payment System adalah 2 sektor fintech yang paling dilihat karena termasuk yang paling berkembang di Indonesia.

1. Dampak Digital Covid-19

Dampak Digital Covid-19

Pandemi telah mempercepat pertumbuhan ekonomi digital global karena masyarakat beralih ke aktivitas online. Menurut Hootsuite dan We Are Social, jumlah pengguna internet dan pengguna aktif media sosial pada tahun 2020 masing-masing meningkat sebesar 7,3% dan 13,2%1. Pertumbuhan media sosial telah meningkat secara signifikan sejak awal pandemi, dengan total pengguna global saat ini meningkat menjadi 4,2 miliar pada Januari 2021, meningkat 13,5% dari tahun sebelumnya1. Rata-rata waktu yang digunakan untuk media sosial telah meningkat lebih dari 30 menit per harinya selama 5 tahun terakhir, dengan rata-rata pengguna menggunakan media sosial selama hampir 2,5 jam per hari1. Pandemi telah secara signifikan meningkatkan penggunaan aplikasi teleworking dan konferensi video, serta layanan pendidikan dan hiburan digital, sementara sektor layanan transportasi dan akomodasi digital mengalami penurunan yang signifikan2.

Saat ritel secara keseluruhan telah terpengaruh oleh pandemi, satu aspek ritel yang tumbuh adalah e-commerce. Pada Januari 2021, semua kategori global e-commerce mencatat pertumbuhan dua digit YoY kecuali perjalanan, sedangkan kategori makanan dan perawatan personal memiliki pertumbuhan tercepat (41%)1. Penjualan online di seluruh dunia dan pangsa pasar ritel online dibanding ritel secara keseluruhan telah meningkat selama pandemi2. Dari perspektif pelanggan, perubahan yang sama juga terlihat, data GWI (Global Web Index) menunjukkan bahwa 77% pengguna internet berusia 16-64 tahun telah membeli sesuatu secara online pada bulan sebelumnya1. Menghadapi ini, banyak bisnis telah menambahkan penawaran online atau menggeser penawaran produk untuk memenuhi perubahan permintaan pelanggan2. Menurut McKinsey pada Juli 2020, lebih dari setengah interaksi pelanggan global dan penawaran produk atau layanan sudah berbentuk digital3.

Salah satu pasar digital yang memiliki potensi besar adalah Indonesia, dengan lebih dari 200 juta pengguna internet pada tahun 2021 dan sektor ekonomi digital yang berkembang pesat. Ekonomi digital Indonesia juga telah terdorong oleh pandemi, dimana pada tahun 2020, pengguna internet Indonesia meningkat 15,5%, sementara pengguna aktif media sosial meningkat 6,3%4. Menurut Google et al., ekonomi internet secara keseluruhan diperkirakan akan mencapai US$70 miliar GMV (gross merchandise value) pada tahun 2021, meningkat 49% dari tahun 2020, dan tetap menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara5.

Sejak awal pandemi hingga pertengahan 2021, Indonesia memiliki 21 juta konsumen digital baru, dengan hampir tiga perempatnya berasal dari wilayah non-metropolitan. Hal ini menunjukkan penetrasi teknologi yang positif5. Perubahan perilaku ini terlihat permanen karena 96% dari konsumen baru ini tetap menggunakan layanan tersebut, dan 99% dan dari mereka berniat terus menggunakannya. Sementara itu, konsumen pra-pandemi telah meningkatkan konsumsi digital mereka, dimana rata-rata mereka menggunakan 3,6 layanan lebih banyak dalam jangka waktu yang sama. Fakta-fakta ini menunjukkan pasar konsumen digital yang tumbuh dan aktif.

Menurut survei dari GWI, orang Indonesia adalah pengguna internet dunia yang paling mungkin melakukan pembelian online, dengan 87% responden telah membeli sesuatu secara online dalam sebulan terakhir.1 Sektor fesyen (US$9,81 miliar) memiliki belanja konsumen terbesar pada Januari 2021, diikuti oleh elektronik dan media fisik (US$6,91 miliar)4. Sektor makanan dan perawatan pribadi memiliki pertumbuhan YoY terbesar (61,3%) sementara perjalanan menurun hampir setengahnya (45,8%), yang mencerminkan tren global.

Pada tahun 2020, GMV ekonomi internet Indonesia hanya mencatat pertumbuhan sebesar 17,5%, yang utamanya disebabkan oleh penurunan signifikan pada sektor perjalanan (75%) akibat pandemi, sedangkan sektor transportasi dan makanan juga mengalami kontraksi, meskipun jauh lebih rendah (10%)5. Namun, pertumbuhan e-commerce yang signifikan (67%) pada tahun yang sama cukup menjadi dorongan untuk menutupi penurunan di sektor lain.

Peningkatan GMV ekonomi internet Indonesia pada tahun 2021 juga didorong oleh e-commerce yang tumbuh sebesar 52% dan memberikan kontribusi lebih dari 75% dari keseluruhan GMV, yang menunjukkan pengaruhnya yang besar5. GMV Indonesia diproyeksikan mencapai 146 miliar pada tahun 2025, dengan perjalanan online diperkirakan memiliki pertumbuhan tercepat (30%), bangkit dari penurunan akibat pandemi, sementara e-commerce diperkirakan tumbuh paling lambat (18%), tetapi mempertahankan sebagian besar kontribusinya (71%). Sektor lainnya, yaitu transportasi dan makanan, dan media online diperkirakan tumbuh masing-masing 25 dan 26%.

2. Dampak Covid-19 terhadap Fintech Indonesia

Ada pandangan bahwa pandemi telah mempercepat pertumbuhan fintech di Indonesia karena orang beralih ke aktivitas keuangan online6. Beberapa sektor fintech telah tumbuh dengan cepat, seperti investasi, remitansi, dan asuransi yang tumbuh di atas 30% pada 20206. Pertumbuhan ini ditunjukkan dalam data OJK bahwa fintech lending bulanan telah pulih ke nilai tertinggi sepanjang masa pada Oktober 2020, setelah beberapa bulan pandemi mengalami penurunan. Sementara itu, Riset dari ADBI menunjukkan bahwa pasar fintech Indonesia cenderung tahan terhadap pandemi, namun pandemi tersebut belum terbukti mempercepat perkembangan fintech payment dan lending7.

Menurut survei Asosiasi Fintech Indonesia, 69% anggota mereka mengalami penurunan pendapatan dan pengguna, kesulitan pendanaan, kesulitan operasional, dan/atau penundaan ekspansi bisnis8. Hal ini memaksa banyak fintech untuk memperkuat manajemen kas mereka dan menunda ekspansi bisnis. Namun, harus disebutkan bahwa survei ini dilakukan pada bulan Maret dan Juni 2020, yakni periode penurunan pasar dan sebelum pemulihan. Pemulihan pasca pandemi berlangsung cepat, dimana fintech lending tercatat meminjamkan lebih banyak dalam 7 bulan pertama tahun 2021 daripada di seluruh tahun 2020.

Menurut laporan Fintech SG, pandemi ini memiliki dampak berbeda pada fintech lending di Indonesia9. Di satu sisi, permintaan pinjaman online meningkat karena bisnis kecil membutuhkan pinjaman mikro yang lebih cepat untuk menghadapi pandemi dan pembatasan pemerintah mendorong orang untuk menggunakan layanan online. Namun, pendanaan menurun karena investor lebih menghindari risiko, dan risiko NPL (Non-Performing Loan) meningkat karena permintaan untuk restrukturisasi meningkat dan ekonomi melambat. Hal ini terlihat dari data OJK yang menunjukkan tingkat NPL di atas 90 hari meningkat selama pandemi, mencapai puncaknya pada Agustus 2021 (8,8%). Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah dan bisnis lain tertunda, tetapi adopsi teknologi digital seperti e-KYC (e-Know Your Customer) meningkat.

Secara keseluruhan, lanskap fintech p2p (peer to peer) lending Indonesia mengalami konsolidasi selama pandemi. Otoritas memberlakukan moratorium pendaftaran fintech lending, sementara banyak fintech yang terdaftar mengalami kesulitan usaha, sehingga mengurangi jumlah fintech lending yang terdaftar. Jumlah fintech terdaftar mencapai titik tertinggi 162 pada Desember 2019, dan telah berkurang menjadi 104 pada Oktober 2021, dengan 5 Fintech Syariah kehilangan status pendaftaran mereka. Namun, banyak fintech telah meningkatkan status mereka dari terdaftar menjadi berlisensi selama jangka waktu ini, dengan fintech berlisensi meningkat dari 34 menjadi 93, dengan 7 Fintech Islam termasuk di antaranya.

Covid juga mempercepat digitalisasi pembayaran. Indonesia adalah salah satu pasar pembayaran mobile dengan pertumbuhan tercepat, dengan jumlah pengguna diproyeksikan meningkat tiga kali lipat pada tahun 202510. Di Indonesia, orang menggunakan rata-rata 3 dompet digital per pelanggan, untuk memaksimalkan manfaat masing-masing. Penggunaan dompet digital juga mendorong pertumbuhan e-commerce, karena 81% transaksi dompet seluler digunakan untuk membayar belanja online11.

Selama masa pandemi, total volume transaksi digital meningkat 37,8% YoY10. Selain itu, hampir setiap (98%) pedagang digital di Indonesia sekarang menerima pembayaran digital, dengan lebih dari tiga perempat merasa bahwa mereka kemungkinan akan meningkatkan penggunaannya di masa mendatang. Selain pengaruh pandemi, pengenalan sistem pembayaran digital komprehensif yang disebut QRIS oleh BI juga mendorong sektor ini10. QRIS memungkinkan interoperabilitas antara penyedia sistem pembayaran digital yang berbeda, dan juga membuat pembayaran digital lebih mudah diakses oleh UMKM.

Kesimpulan

Kita bisa melihat bahwa pandemi covid-19 telah mempercepat pertumbuhan ekonomi digital global. Indonesia sebagai sebuah ekonomi digital juga mengalami pertumbuhan signifikan, dengan sektor e-commerce memiliki peranan yang besar, yang didorong oleh pandemi dan sektor konsumen Indonesia yang besar, tumbuh, dan aktif. Lanskap fintech di Indonesia menghadapi dampak beragam selama pandemi. Fintech pinjaman secara keseluruhan lebih terkonsolidasi karena pandemi, dan sementara permintaan pinjaman online meningkat, pendanaan menurun dan risiko meningkat. Di sisi lain, fintech sistem pembayaran mengalami pertumbuhan yang lebih universal, dengan meningkatnya transaksi digital dan sistem pembayaran digital yang lebih komprehensif mendorong sektor secara keseluruhan.

Referensi

[1] Hootsuite. Digital 2021 global overview report, 2021.

[2] UNCTAD. Covid-19 and e-commerce: A global review, 2021.

[3] McKinsey. How covid-19 has pushed companies over the technology tipping point–and transformed business forever, Feb 2021.

[4] Hootsuite. Digital 2021 indonesia, 2021.

[5] Google, TEMASEK, Bain. e-conomy sea 2021, roaring 20s: the sea digital decade, 2021.

[6] DS Research. Fintech report 2020, 2020.

[7] Eric Alexander Sugandi. The covid-19 pandemic and indonesia’s fintech markets. Available at SSRN 3916514, 2021.

[8] Asosiasi Fintech Indonesia. Annual member survey 2019/2020, 2020.

[9] Fintech Singapore. Indonesia fintech report 2020, 2021.

[10] Deloitte. The accelerating digital payments landscape in indonesia, 2020.

[11] Boku. Mobile wallets report 2021, July 2021.

Ardanu Bagas Wicaksono

Ardanu adalah Peneliti di ALAMI Institute. Mempunyai latar belakang pendidikan Masters of Islamic Finance and Management dari Durham University, Inggris, ia memiliki pengalaman kerja dengan beberapa konsultan ekonomi syariah, start-up dan lembaga sosial. Ardanu memiliki minat khusus untuk mendalami fiqh muamalah, Islamic social finance, fintech, dan inovasi produk.