Alami Institute

Bagaimana NFT dan Smart Contract Dapat Mempengaruhi Keuangan Syariah

NFT dan smart contract adalah inovasi digital pada sistem keuangan. Bagaimana mereka dapat diaplikasikan dalam keuangan syariah?

By Ardanu Bagas Wicaksono

|

28 Desember 2021

NFT dan smart contract pada keuangan syariah

Images by Adobe Stock

NFT sebagai bentuk kepemilikan digital sudah memiliki pasar yang besar, sedangkan smart contract adalah inovasi teknologi yang mendasari banyak aspek dari keuangan kripto. Kedua hal ini, jika dikembangkan dapat membantu performa keuangan syariah, khususnya smart contract sebagai kontrak otomatis yang akan memastikan pemenuhan akad.

Bagaimana NFT dan Smart Contract Dapat Mempengaruhi Keuangan Syariah

Pada Maret 2021, sebuah token kepemilikan digital, atau NFT (Non-Fungible Token), untuk karya seni digital yang disebut Everydays: the first 5000 days dijual seharga US$69 juta. Di saat karya itu sendiri masih bisa dilihat, disalin, atau bahkan dicetak oleh siapa pun, kepemilikannya tetap dimiliki oleh pemegang token tersebut. Selain itu, pembeli tersebut baru-baru ini bahkan mengizinkan siapapun mengunduh salinan token1. Ini menunjukkan keunikan NFT, di mana ia dihargai sangat tinggi, tapi juga bukan sesuatu yang eksklusif untuk pemiliknya.

NFT, dalam bentuknya saat ini, adalah bagian dari ekosistem kripto. Ekosistem ini dibuat menggunakan banyak jenis teknologi dan aplikasi, termasuk blockchain dan smart contract. Teknologi ini diterapkan di sektor jasa keuangan internal mereka, keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi), dan memiliki banyak aplikasi potensial dalam menguatkan sistem keuangan yang ada, termasuk keuangan syariah.

Artikel ini berfokus pada NFT dan Smart contract. NFT telah menjadi sektor yang berkembang pesat dalam ekonomi digital, tumbuh dari US$400 juta dalam penjualan bulanan di awal tahun ini ke sekitar US$2 miliar, menurut JP Morgan2. Kenaikan ini, ditambah dengan keunikan NFT yang disebutkan di atas, menjadikannya sektor yang menarik dan layak disorot. Di sisi lain, smart contract tampaknya memiliki manfaat yang jelas, melalui fiturnya yang dapat dijalankan sendiri dan tidak bisa diubah, untuk memperkuat keuangan secara umum, dan keuangan syariah secara khusus. Selain itu, khususnya dibandingkan dengan blockchain, smart contract relatif mendapat lebih sedikit perhatian sehingga membuat manfaatnya kurang diketahui umum.

1. NFT dan Smart Contract

1.1 NFT

NFT adalah singkatan dari non-fungible token. NFT didefinisikan oleh EY sebagai aset digital unik yang direkam dalam blockchain3. Karena unik dan tidak dapat dipertukarkan, NFT dapat digunakan untuk mewakili kepemilikan aset digital ataupun fisik tertentu. NFT menggabungkan sifat terdesentralisasi dari blockchain dan keunikan dari aset yang tidak dapat dipertukarkan4. NFT membuat sebuah aset digital, yang sebelumnya mudah direplikasi, menjadi memiliki kelangkaan dan kepemilikan asli.

NFT dapat mengkomersialkan aset unik yang sebelumnya sulit untuk dijual atau dibuktikan kepemilikannya, seperti video, foto, atau bahkan tweet. Siapapun dapat menyalin file digital, termasuk sesuatu yang diwakili kepemilikannya dengan NFT, namun mereka tidak dapat mengklaim kepemilikan barang tersebut5.

Karena NFT dibangun di atas smart contract, mereka juga dapat diprogram untuk menambahkan fungsi yang berbeda, seperti mengirimkan royalti kepada pembuatnya setiap kali NFT ditransaksikan. Saat ini, NFT ditransaksikan di pasar khusus seperti OpenSea, yang merupakan pasar NFT terbesar dengan total penjualan lebih dari US$10 Miliar6.

1.1.1. Penggunaan Saat Ini dan Risiko NFT

Sektor pertama di mana NFT menjadi mainstream adalah pasar seni digital, di mana seniman dapat melawan plagiarisme dan memonetisasi karya seni mereka dengan menggunakan NFT untuk menjual kepemilikan seni mereka dan mendapatkan royalti3. Saat ini, sektor seni kripto memiliki kapitalisasi pasar keseluruhan lebih dari US$1,2 miliar7, dan NFT paling mahal pada saat penulisan adalah seni digital yang disebutkan di atas, Everydays: the First 5000 days, dan banyak NFT lainnya telah telah terjual dengan harga jutaan dolar.

Sektor lain yang menonjol menggunakan NFT adalah game, seperti untuk menjual aset game digital. Hal ini memungkinkan orang yang sebelumnya tidak benar-benar memiliki aset tersebut untuk menjualnya di pasar eksternal8. Barang koleksi terbatas juga memiliki pasar NFT yang besar. Salah satu proyek milestone kripto koleksi adalah CryptoPunks, 10.000 karakter piksel unik di mana yang paling mahal terjual seharga US$ 11,8 juta3, 9. Bahkan liga olahraga terkemuka seperti NBA juga telah memasuki pasar NFT melalui NBA Top Shot, menjual NFT berupa highlight pertandingan5.

NFT juga semakin berpengaruh dalam Decentralized finance (DeFi), aplikasi terdesentralisasi berdasarkan blockchain yang menyediakan layanan keuangan. Saat ini, NFT terutama berfungsi sebagai jaminan di DeFi. Marketplace DeFi NFTfi menawarkan pinjaman P2P (Peer to Peer) yang didukung oleh NFT sebagai jaminan4, dan mereka telah menyalurkan lebih dari US$32.000 dalam bentuk pinjaman sejak diluncurkan pada Juni 202110. Sektor NFT lainnya termasuk tiket dan aset virtual, seperti nama domain dan lahan virtual, yang ditawarkan di platform dunia virtual seperti Decentraland.

Namun, tentu ada risiko yang terlibat dalam memanfaatkan teknologi baru dan inovatif seperti NFT. Karena NFT masih baru, hanya ada sedikit regulasi yang berlaku untuk NFT. Selain itu, karena blockchain berlaku secara global, regulasi NFT menjadi semakin rumit5, dan ketidakpastian ini menciptakan risiko untuk setiap transaksi NFT. Dampak lingkungan juga menjadi perhatian, karena NFT umumnya menggunakan Ethereum Blockchain, yang menghabiskan banyak energi dan memiliki dampak lingkungan yang besar. Kekhawatiran ini dapat dikurangi di masa depan karena ethereum berencana mengganti metode validasinya dan menerapkan teknologi yang lebih baik. Risiko lainnya termasuk keamanan data, litigasi, dan risiko reputasi5.

1.1.2. Penggunaan Teoretis NFT

Meskipun seni digital adalah bentuk seni yang dominan untuk dicetak menjadi NFT, segala bentuk seni berpotensi dapat dicetak menjadi NFT. Misalnya, sektor lain seperti film dapat di masa depan mengubah karyanya menjadi NFT sehingga mereka bisa mendapatkan royalti setiap kali karyanya ditampilkan3.

Saat ini, NFT sebagian besar digunakan untuk aset digital, tetapi berpotensi juga digunakan untuk aset riil dan berwujud di masa depan. Misalnya, NFT berbasis real estate dapat mempercepat transfer kepemilikan menggunakan smart contract dan blockchain. Barang yang akan dijual dapat dilacak selama proses rantai pasokan menggunakan NFT, menguatkan produsen dalam mengidentifikasi penipuan3. Namun, menurut CEO Outlier Ventures, penggunaan ini masih jauh karena aset dunia nyata masih membutuhkan perjuangan bertahun-tahun untuk dicetak menjadi NFT11.

NFT juga secara teoritis dapat digunakan untuk identifikasi pribadi, membuat informasi pribadi orang lebih aman dan terkendali4. Dalam DeFi, pendapatan dari NFT, seperti royalti, dapat diintegrasikan ke lembaga keuangan untuk meningkatkan peringkat utang seseorang. NFT juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lisensi dan sertifikasi3.

Namun, ada hambatan nyata menuju adopsi massal NFT yang perlu dipecahkan agar penggunaan-penggunaan ini dapat direalisasikan4. Saat ini, teknologi NFT masih sangat muda, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait keamanan dan keasliannya. Menjamin klaim NFT pada suatu aset riil bisa jadi sulit, dan mungkin memerlukan perusahaan sektor riil untuk menerbitkan NFT mereka sendiri atau bermitra dengan perusahaan kripto. Hambatan lain mencakup kurangnya regulasi yang disebutkan sebelumnya, biaya transaksi yang tinggi dan fluktuatif dari jaringan blockchain, dan relatif sulit dapat diaksesnya NFT saat ini karena halangan partisipasi masih cukup tinggi.

1.2. Teori Smart contract

Menurut World Bank, smart contract adalah kontrak otomatis dalam bentuk kode yang berjalan otomatis dalam kondisi tertentu dan tidak dapat diubah setelah diaktifkan12. Oleh karena itu, smart contract memiliki 2 properti utama, yaitu self-executing dan immutable, artinya kontrak tersebut dijalankan secara otomatis tanpa campur tangan manusia, dan tidak dapat diubah atau dimodifikasi

Smart contract umumnya digunakan bersama dengan blockchain, sehingga banyak yang menggambarkan smart contract sebagai kode yang ditulis di blockchain. Dengan blockchain, smart contract dapat menciptakan cara yang lebih transparan, otomatis, dan efisien dalam memfasilitasi berbagai proses kontrak12. Ini berguna khususnya untuk memantau kinerja perjanjian, sehingga mengurangi kebutuhan akan pihak ketiga.

Saat ini, smart contract sebagian besar diterapkan di ekosistem cryptocurrency. DeFi menggunakan smart contract untuk membuat pertukaran dan pinjaman otomatis, menciptakan sistem yang tidak memerlukan izin dan mengotomatisasi setiap fungsi13. Aplikasi terdesentralisasi lainnya, seperti DAO (Decentralized autonomous organization), juga berjalan menggunakan smart contract untuk mengotomatisasi dan mendesentralisasikan fungsinya.

Aplikasi smart contract berguna untuk operasi yang membutuhkan logika yang mudah, tetapi sulit untuk operasi yang membutuhkan penilaian khusus12. Untuk jenis operasi yang tepat, smart contract akan mengurangi friksi proses, mengurangi biaya seperti operasional, penipuan, dan risiko hukum, serta meningkatkan kepercayaan. Pendukung smart contract menyatakan bahwa ini akan menciptakan efisiensi dan mengurangi perbedaan hukum.

Namun, smart contract tidak mengurangi risiko kredit atau meningkatkan kelayakan kredit peminjam. Beberapa kendala lain dari inklusi keuangan juga tidak dapat diatasi dengan smart contract, seperti jarak, aksesibilitas, kesadaran, literasi, dan budaya. Kritik terhadap cryptocurrency menyatakan bahwa memodifikasi, mengubah, atau mengakhiri smart contract bisa jadi sulit karena sifatnya yang tidak dapat diubah12. Ada juga risiko yang melekat seperti kesalahan pengkodean, dan transparansi yang melekat pada smart contract dapat membuatnya rentan terhadap serangan14.

Peluang terbesar penggunaan smart contract ada pada sektor rantai pasok dan asuransi12. Friksi proses dan asimetri informasi dalam rantai pasokan dapat dikurangi dengan smart contract, yang akan meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan mengurangi biaya. Untuk asuransi, smart contract dapat memperbaiki penyelesaian klaim dan sengketa, mengurangi friksi, dan meningkatkan kepercayaan. Tetapi seperti yang telah disebutkan, ini hanya dapat digunakan untuk tugas-tugas sederhana, seperti asuransi bencana yang terkait dengan indeks cuaca, sementara asuransi yang cenderung membutuhkan penilaian lebih sulit. Meskipun tidak sejelas 2 sektor diatas, kredit konsumen dapat diperkuat oleh smart contract melalui otomatisasi proses tertentu seperti pelayanan pinjaman.

2. Legalitas dalam Syariah

2.1. NFT

Sebelum membahas legalitas NFT, perlu diketahui bahwa karena NFT masih merupakan bidang yang berkembang, fikih NFT masih akan berkembang seiring dengan dibuatnya NFT baru. Menurut Faraz Adam, NFT diperbolehkan selama aset yang diwakili oleh NFT tersebut sesuai syariah, dan tidak ada potensi masalah yang berisiko ketidakpatuhan syariah15. Misalnya, NFT untuk seni yang menampilkan aurat tubuh, atau untuk tiket ke acara yang melanggar syariat tidak sesuai dengan hukum syariah.

Satu poin penting tentang NFT dalam syariah adalah bahwa ia harus memiliki manfaat riil, dan tidak termasuk pemborosan. Bertransaksi hanya dalam aset yang memiliki manfaat dan kegunaan yang riil adalah salah satu prinsip utama syariah16. Sedangkan pemborosan, atau israf, yang berarti konsumsi berlebihan tidak dibenarkan dalam Al-Qur'an dan tidak disukai oleh Allah (Al-Qur'an 7:31). Pemborosan sumber daya juga dikutuk dalam Quran, yang membandingkannya dengan perilaku setan (Quran 17:26-27)17.

Oleh karena itu, token yang tidak memiliki manfaat dan penggunaan riil tidak selaras dengan prinsip syariah15. Ini termasuk NFT untuk koleksi yang hanya untuk hiburan, atau untuk game yang tidak memiliki tujuan yang layak. Meskipun sesuatu itu memiliki nilai finansial, tetapi jika kegunaan dan nilainya tidak sesuai dengan prinsip syariah, ini bisa jadi termasuk dalam larangan menghambur-hamburkan kekayaan untuk barang-barang yang tidak berguna. NFT yang terlalu mewah juga tidak sesuai syariah karena termasuk dalam larangan pemborosan, meskipun apa yang disebut mewah tidak didefinisikan secara pasti dalam syariah dan mungkin berbeda antar orang17.

2.2. Kedudukan Smart contract

Perlu dicatat bahwa masih sedikit fatwa tentang ekosistem cryptocurrency secara keseluruhan di luar cryptocurrency itu sendiri, karena ini masih merupakan area baru yang masih berkembang. Menurut Faraz Adam, smart contract itu sendiri bebas nilai dan netral18. Oleh karena itu, karena tidak ada alasan untuk melarang, smart contract termasuk dalam kaidah hukum Islam bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh.

Namun, isi dari kontrak menentukan apakah smart contract tersebut sesuai syariah atau tidak. Misalnya, kontrak pinjaman DeFi berbunga, atau derivatif DeFi yang spekulatif tidak sesuai syariah. Karena sektor ini masih terus berkembang, fatwa dan pedoman baru akan diperlukan untuk memastikan kepatuhan syariah dari setiap produk yang menggunakan smart contract.

3. Potensi dalam Keuangan syariah

3.1. Kedudukan NFT

Potensi penggunaan NFT yang paling jelas dalam Keuangan syariah adalah sebagai jaminan, sebagaimana penggunaannya saat ini di DeFi. NFT yang digunakan sebagai jaminan untuk Keuangan syariah akan memiliki manfaat yang sama seperti yang akan diberikan untuk sektor keuangan lainnya, seperti desentralisasi, keterlacakan, dan mencegah penipuan atau plagiarisme. Ini juga akan memberikan akses pembiayaan syariah untuk lebih banyak orang, seperti seniman digital syariah dan pemilik NFT.

NFT secara khusus dapat diaplikasikan di Keuangan syariah jika NFT dapat dicetak untuk aset riil, karena salah satu tema utama keuangan syariah adalah koneksi langsung dengan ekonomi riil19. Misalnya, alih-alih memberikan dokumentasi fisik dalam pembiayaan mobil, peminjam cukup memberikan NFT mobil. Namun, jika hanya item digital yang dapat dicetak menjadi NFT, itu akan membuat koneksi ke sektor riil menjadi jauh lebih terbatas.

Penggunaan NFT dalam keuangan syariah dapat dimulai dengan mengembangkan pasar DeFi Syariah, yang saat ini belum ada. Selanjutnya, harus ada pedoman dan fatwa yang jelas tentang kepatuhan syariah dari NFT, dan jika konsep NFT memang halal, bagaimana mengidentifikasi apakah masing-masing NFT individu sesuai syariah. Pasar NFT halal juga harus dikembangkan karena pada waktu penulisan, belum ada pasar NFT halal atau filter yang sesuai dengan syariah.

3.2. Penerapan Smart contract

Menerapkan smart contract ke Keuangan syariah akan memiliki manfaat yang sama seperti yang akan diberikan pada keuangan konvensional, termasuk efisiensi, keamanan, dan kepercayaan. Karena memenuhi kontrak adalah perintah langsung dari Allah dalam Al-Qur'an (Al-Qur'an 5:1), setiap inovasi sesuai syariah yang mendukungnya akan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dan melalui fitur self-executing-nya, smart contract akan dapat mendukung pemenuhan kontrak sambil menjadi alat netral yang sesuai syariah.

Salah satu aplikasi smart contract yang ada di Islamic Finance adalah Smart Sukuk dari Blossom Finance. Ini adalah salah satu dari sedikit inovasi yang menghubungkan antara ekosistem cryptocurrency dengan sektor riil. Blossom Finance menggunakan sukuk berbasis smart contract yang digunakan untuk berinvestasi pada UMKM di Indonesia, meningkatkan investasi dan inklusi keuangan20. Menggunakan smart contract dalam sukuk akan menghilangkan kebutuhan akan perantara dalam penerbitan dan memastikan standarisasi.

Blockchain dan smart contract juga berpotensi digunakan untuk meningkatkan kinerja keuangan sosial Islam seperti zakat. Rejeb (2020)21 menciptakan model pendanaan yang menggabungkan antara pengelolaan zakat dengan blockchain dan smart contract. Ini secara teoritis akan mengidentifikasi pembayar zakat baru yang potensial, sehingga meningkatkan pengumpulan zakat secara keseluruhan. Model ini juga akan menciptakan lingkungan yang lebih percaya karena adanya transparansi dan otomatisasi, dan juga mengurangi biaya waktu, di antara manfaat lainnya.

Kesimpulan

Dampak Digital Covid-19

Kesimpulannya, dari perspektif Islam, NFT dan smart contract pada dasarnya diperbolehkan, selama aset atau kontrak di dalamnya sesuai dengan syariah. Dalam NFT secara khusus, satu aspek penting adalah bahwa barang tersebut harus memiliki manfaat yang riil, karena Islam melarang pemborosan kekayaan untuk barang-barang tidak berguna. Dalam hal penggunaan, NFT dapat berguna dalam keuangan syariah khususnya jika dapat digunakan untuk merepresentasikan aset riil. Sementara smart contract, sebagai konsep yang berdiri sendiri, tampaknya sangat selaras dengan nilai-nilai Islam karena dapat mendukung pemenuhan kontrak, bersama dengan manfaat lainnya.

Melihat ke depan, seperti disebutkan sebelumnya, harus ada pedoman yang jelas tentang kepatuhan syariah NFT itu sendiri dan juga masing-masing objek yang diwakilinya. Beberapa pasar NFT berbasis Islam, seperti Funoon, berusaha mengembangkan pasar NFT berbasis agama yang memungkinkan pencipta NFTnya untuk menyisihkan persentase tertentu dari harga untuk amal. Dari sisi smart contract, inovasi dan penggunaan baru dengan menggunakan smart contract harus terus dikembangkan. Marhaba DeFi saat ini sedang mengembangkan platform DeFi yang sesuai dengan syariah, dimana smart contract memainkan peran penting didalamnya.

Referensi

[1] Natasha Dailey. Why the buyer of beeple’s $69 million nft wants everyone to make free copies of the digital art, Nov 2021.

[2] Matthew Fox. The nft market is now worth more than $7 billion, but legal issues facing the nascent sector could hinder its growth, jpmorgan says, Nov 2021.

[3] World Bank Group. Non-fungible tokens: Nfts in the spotlight, 2020.

[4] Crypto.com. Non-fungible tokens: A brief introduction and history, November 2020.

[5] Clifford Chance. Non-fungible tokens: The global legal impact, June 2021.

[6] Sean Dickens. More than $10bn in volume has now been traded on opensea in 2021, Nov 2021.

[7] CryptoArt, Dec 2021.

[8] Visa. Nfts: Engaging today’s fans in crypto and commerce, 2020.

[9] Elizabeth Howcroft. ’cryptopunk’ nft sells for $11.8 million at sotheby’s, Jun 2021.

[10] NFTfi, Dec 2021.

[11] Jeff Wilser. 15 nft use cases that could go mainstream, Oct 2021.

[12] World Bank Group. Smart contract technology and financial inclusion, 2020.

[13] Campbell R Harvey, Ashwin Ramachandran, and Joey Santoro. DeFi and the Future of Finance. John Wiley & Sons, 2021.

[14] Decentralized finance (defi) policy-maker toolkit, June 2021.

[15] Faraz Adam. Nfts: Shariah compliant?, Jul 2021.

[16] Faraz Adam. Are meme tokens halal?, Jul 2021.

[17] Muhammad Akram Khan. Theory of consumer behavior:An islamic perspective. 2020.

[18] Faraz Adam. How smart are smart contracts from a shariah compliance perspective?, Feb 2021.

[19] Mehmet Asutay. Islamic moral economy as the foundation of islamic finance. In Islamic Finance in Europe. Edward Elgar Publishing, 2013.

[20] World Bank Group. Leveraging islamic fintech to improve financial inclusion, October 2021.

[21] Dhiaeddine Rejeb. Blockchain and smart contract application for zakat institution. International Journal of Zakat, 5(3):20–29, 2020.

Ardanu Bagas Wicaksono

Ardanu adalah Peneliti di ALAMI Institute. Mempunyai latar belakang pendidikan Masters of Islamic Finance and Management dari Durham University, Inggris, ia memiliki pengalaman kerja dengan beberapa konsultan ekonomi syariah, start-up dan lembaga sosial. Ardanu memiliki minat khusus untuk mendalami fiqh muamalah, Islamic social finance, fintech, dan inovasi produk.